Selasa, 28 Juni 2022

Pentas Drama Putri Mandalika; Upaya Pembentukan Karakter (18)

Drama Putri Mandalika

Seorang pengawal istana tampak datang ke aula kerajaan. Pengawal istana itu menggeliatkan tubuhnya yang tambun. Mulutnya menguap pertanda diserang kantuk. Rupanya semalam dia begadang. Tetapi dilihat dari badannya yang gembur pengawal itu menunjukkan karakter pemalas dan tukang tidur.

Pengawal mendekati salah satu bangku panjang yang diletakkan di sebelah kiri dan kanan singgasana Raja. Di atasnya, pengawal merebahkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian dia sudah terdengar mendengkur dalam tidur pulasnya. 

Suasana hening. Dalam keheningan itu, terdengar suara langkah kaki beradu dengan lantai. Seorang pengawal lain muncul. Pengawal berperawakan jangkung dengan tubuh ceking datang dengan sebilah senjata tongkat di tangannya.

Saat melihat teman sesama pengawal tertidur, pengawal bertubuh ceking itu mendekat. Dia mencoba membangunkan rekannya. Ditepuk-tepuknya pinggang pengawal tambun. Pengawal tambun itu tetap mendengkur. 

Pengawal ceking masih berupaya membangunkannya dengan menyepak-nyepak kaki pengawal tambun. Pengawal tambun terbangun tetapi hanya berdiri menggeliat dan menguap.

"Ooowaaam."

Pengawal tambun tidur lagi. Pengawal bertubuh jangkung memilih duduk di singgasana Raja. Dari tempat duduknya, pengawal bertubuh ceking memukul bokong pengawal tambun yang tidur tengkurap.

Tetap saja pengawal tambun tidak sadar dari tidurnya. Dia malah mengigau memanggil-manggil kekasihnya. Pengawal bertubuh ceking kesal. Rupanya pengawal bertubuh ceking tidak puas sebelum bisa membangunkan temannya. Setelah menghenyakkan dirinya di kursi, pengawal ceking membuka sandalnya lalu bangkit dan melangkah ke mendekati kepala temannya. Sandal itu dikipas-kipasnya ke hidung pengawal bertubuh tambun. 

Pengawal bertubuh tambun terbangun dan berteriak, “Ayaaaang! Ayaaaang! Ayaaaang! Mana Ayangku? Kenapa kamu yang duduk di sini?”

Rupanya pengawal tambun tidak benar-benar keluar dari alam bawah sadarnya. Dia belum bangun.

“Heh! Apa maksudmu teriak-teriak Ayang Ayang begitu? Kamu mengigau.”

Pengawal tambun tersadar. Rupanya dia bermimpi tengah berduaan bersama kekasihnya. 

“Berani benar kamu duduk di kursi raja?” tanya Pengawal Tambun setelah tersadar dan melihat kawannya duduk santai di kursi raja. “Kamu tidak takut dimarahi Raja?”

“Takut Raja?” Pengawal ceking menjentikkan kuku jarinya.

Narasi di atas adalah penggalan aksi drama berjudul Putri Mandalika. Sebuah mitos yang berkembang dalam tradisi cerita lisan masyarakat Sasak. Pemainnya terdiri siswa SD Negeri 1 Embung Kandong, Kecamatan Terara, Lombok Timur.

Babak pertama drama menggambarkan kegelisahan Raja yang melihat putrinya tidak juga menemukan jodoh. Atas saran Patih, kerajaan kemudian mengadakan sayembara untuk memperebutkan sang Putri. 

Babak ke dua menceritakan proses sayembara yang diikuti oleh sejumlah putra raja atau pangeran dari berbagai negeri. Pilihan Raja jatuh pada salah seorang pangeran karena membawa hadiah yang menggiurkan Raja. Pilihan Raja itu mendapatkan protes karena itu dianggap sebagai bentuk gratifikasi, sebuah fenomena suap menyuap terselubung yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Menyadari kekeliruannya, Raja memutuskan untuk memilih pendamping putrinya melalui baku pukul atau pertarungan peresean, sebuah olahraga tarung dengan menggunakan senjata tongkat dari rotan.

Drama putri Mandalika yang dipentaskan di halaman sekolah itu berdurasi sekitar satu jam. Selama satu jam pula drama itu mampu memagut perhatian penonton yang terdiri dari siswa, orang tua dan masyarakat setempat. Pemainnya terdiri dari anak-anak yang baru pertama kali berkenalan dengan seni drama. Namun demikian penampilan mereka cukup menghibur. 

Drama dikemas dengan dialog campuran bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Aksi panggung yang diwarnai dengan dialog dan aksi kocak pemainnya membuat suasana pentas hidup dan menghibur.

Drama Putri Mandalika merupakan drama yang berbasis budaya dan tradisi lokal. Drama itu tidak saja mentransformasi cerita lisan rakyat menjadi sebuah seni drama tetapi juga mengeksplorasi budaya lokal yang ada dalam tradisi masyarakat Sasak. Melalui pentas Drama Putri Mandalika anak-anak sejak dini dapat memperoleh informasi tentang budayanya sendiri yang makin hari tergerus perubahan.

Sebagai pemula, aksi anak-anak itu tidak dapat disamakan dengan pemain drama profesional. Akan tetapi, paling tidak sejak dini anak-anak itu sudah mengenal seni pentas. Melalui seni drama pembentukan karakter akan bisa dibangun. 

Rasa percaya diri merupakan karakter utama yang dapat dibangun melalui drama. Di hadapan penonton, pemain drama harus memiliki keyakinan bahwa dia mampu memainkan perannya dengan baik. Dengannya pemain akan memiliki semacam kebebasan tanpa beban saat menjalankan aksi panggungnya.

Adanya rasa percaya diri akan sangat memungkinkan pemainnya melakukan komunikasi dengan baik dan dialog terarah antar pemain. Drama mengajarkan bagaimana seseorang saling mendengarkan, kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. 

Pentas drama sebagai sebuah tim sangat memerlukan kerjasama antar pemain. Melalui drama sikap kerjasama anak-anak akan terbangun. Dengan peran yang berbeda-beda mereka akan memahami peran masing-masing. Mereka akan terbiasa menjalankan perannya dan bukan mengambil peran orang lain.

Drama adalah kisah kehidupan manusia yang dijadikan sebuah pertunjukan atau dipentaskan. Pengertian ini mengandaikan bahwa drama tidak lahir dari ruang kosong. Kisah dalam sebuah drama lahir dari kehidupan sosial atau kehidupan kolektif manusia. 

Drama dibuat sebagai cermin dari penggalan kisah manusia yang tidak dapat menghindarkan diri dari konflik dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya konflik terjadi dipicu oleh perbedaan karakter antar tokoh. Melalui drama anak-anak akan belajar bagaimana memahami karakter orang lain. Dengan memahami karakter antar sesama seseorang akan mampu mengelola konflik itu dengan baik agar tercapainya harmoni dalam kehidupan.

Lombok Timur, 28 Juni 2022


Minggu, 26 Juni 2022

Anak Rantau sebagai Anak Kuliah (17)

Saya yakin semua atau sebagian besar pembaca artikel ini pernah menjadi mahasiswa atau anak kuliahan dan merasakan menjadi perantau dan menuntut ilmu di daerah lain.

Saya sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak pengais ilmu yang pernah meninggalkan rumah, menyeberang pulau.

Ada banyak suka dan duka menjadi mahasiswa di negeri orang. Setiap masa tentu memiliki pengalaman yang berbeda. Mahasiswa tahun 80-an, 90-an, sampai 2000-an akan memiliki cerita yang tidak sama.

Saya ingat betul jatah bulanan saat itu tahun 90-an hanya 50-75 ribu rupiah. Dengan uang itu saya harus mengelola keuangan dengan baik. Jatah itu mencakup biaya makan, minyak kompor, dan yang paling utama kebutuhan kuliah. Sesekali saya membeli rokok batangan.

Era itu tentu jika Tuan dan Nyonya seusia saya tahu bahwa teknologi komunikasi belum berkembang seperti saat ini. Hidup tanpa gawai, tanpa laptop, atau belum ada wartel. Komunikasi dengan keluarga hanya dapat dilakukan melalui surat. 

Untuk memberi kabar keluarga saya atau mahasiswa perantau saat itu harus menulis surat semalaman agar informasi yang disampaikan kepada orang tua lengkap. Setelah surat selesai, saya harus menuju kantor pos untuk mengirim surat tersebut setelah diberikan prangko. Surat akan sampai ke kampung dan diterima orang tua atau keluarga bisa mencapai seminggu. Seminggu berikutnya baru ada balasan dari orang tua.

Jika mahasiswa kala itu ingin agar informasi yang disampaikan lebih cepat diterima orang tua, pilihan lainnya dapat menggunakan jasa telegram. Tentu saja bukan telegram seperti salah satu aplikasi media sosial saat ini. Biasanya jasa telegram kala itu digunakan untuk hal-hal yang bersifat mendesak dan penting.

Telegram adalah surat atau berita yang pengirimannya disalurkan melalui pesawat morse, teleks, atau teleprinter. Telegram biasanya digunakan untuk mengirim berita yang harus cepat diterima oleh orang yang dituju. Berita yang dikirim dengan telegram harus singkat dan jelas. Pasalnya, biaya pengirimannya terbilang cukup mahal karena dihitung menurut jumlah kata yang dikirimkan. (1)

Kiriman jatah bulanan juga diterima dengan cara yang sangat konvensional. Rerata mahasiswa tidak memiliki rekening. Maka pengiriman biaya kuliah dari orang tua dilakukan melalui wesel pos. Mahasiswa masa kini tentu belum pernah merasakan kegirangan yang membukit saat tukang post datang dengan membawa kabar berupa wesel pos.

Mahasiswa era digital saat ini dapat menyelesaikan tugas kuliah dengan sumber referensi yang melimpah hanya dengan googling tanpa perlu beranjak dari tempat duduknya. Berbeda dengan kami pada kurun waktu tahun 90-an. Untuk menyelesaikan tugas harus berkunjung ke perpustakaan untuk memperoleh buku sumber yang dibutuhkan.

Lalu bagaimana membuat tugas kuliah? Double folio menjadi pilihan utamanya. Kompasianer tentu bisa membayangkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan media berbasis kertas. Membuatnya harus hati-hati. Saat mengerjakannya, Anda harus menyiapkan cairan putih bernama tip ex untuk menutupi kesalahan tadi lalu ditulis ulang.

Ada pula yang menggunakan mesin tik. Di tempat kost saya hanya satu orang yang memiliki alat itu. Sebuah perangkat yang cukup mewah pada masa itu. Tetapi tetap saja sama dengan mengerjakan tugas dengan cara tulis tangan. Kita membutuhkan cairan typo. Lagi pula hanya sebagian mahasiswa yang terbiasa menggunakan mesin tik.

Membuat tugas seperti di atas tidak akan dialami oleh mahasiswa era digital. Jika terjadi kekeliruan pada naskahnya tinggal menekan tombol delete atau backspace.

Setiap masa memberikan warna hidup yang berbeda. Mahasiswa era 90-an yang menjalani hari-hari kuliah tanpa gawai akan dipandang sebagai keadaan yang normal oleh mahasiswa kala itu tetapi situasi itu akan dipandang sebagai sebuah kehidupan tidak wajar oleh mahasiswa era digital.

Soal makan? Masak sendiri. Menu makanan seadanya. Paling sering masak mie instan dicampur telor. Makan ini menjadi nutrisi harian terutama mahasiswa (putra).

Lombok Timur, 27 Juni 2022


Sabtu, 25 Juni 2022

Antara Saya, Ayah, dan Seekor Cicak (16)

Rumah ayah adalah rumah saya masa kecil. Mengapa rumah ayah. Karena ibu telah pergi. Pergi mendahului kami. 

Rumah itu memahat banyak kenangan, tempat saya dan saudara-saudara tumbuh besar dan menjadi dewasa dalam kasih sayang paripurna dari orang tua. Bahkan beberapa tahun setelah mengakhiri masa lajang, saya masih tinggal di rumah itu. 

Rumah yang pernah saya jalani sebagai sasaran gerutu Ibu. Gerutu seorang ibu yang penuh kasih karena yang mendapati saya belum bangun saat pagi sudah memberikan kemampuan kepada mata-mata untuk membedakan benang putih dan bulu tangan. Atau ketika saya diserang kantuk lalu pulang tengah malam mengetuk pintu setelah keluyuran.

Rumah itu ada tiga kamar tidur utama. Sebuah ruang tamu yang cukup luas, untuk ukuran perumahan di kampung, menghadap halaman rumah. Di depan ada bangunan kios dimana almarhumah Ibu mencurahkan seluruh hidupnya untuk membantu Ayah menghidupi keluarga. 

Halaman rumah itu juga cukup luas dan lapang. Seluas dan selapang dadanya melihat kenakalan normatif masa kecil anak-anaknya.

Malam itu saya tidur di rumah ayah. Tidak tega melihatnya tidur sendiri. Saya bergiliran dengan adik perempuan saya. Fitri. 

“Kamu tentu ingat saat rumah ini dibangun?” entah bagaimana alur pembicaraan kami malam itu sampai ayah mulai mengulas tentang rumah.

“Saya masih ingat, Ayah,”

“Belasan tahun baru bisa menjadi sebuah bangunan utuh,” Ayah melanjutkan.

“Di sudut itu dulu ibumu mulai berjualan. Di sebuah bangunan kedai beratap ilalang,” Ayah menunjuk ke arah bangunan kios dimana Ibu seharian menunggu barang dagangannya.

“Saya ingat. Ibu menggelar dagangannya di atas lincak,” saya mengenangnya.

Nyaris sepanjang hidupnya Ibu menjalani kegiatan berdagang. Ibu jualan macam-macam, jajanan pasar, permen, buah-buahan, bumbu dapur, mainan anak-anak, dan beragam kebutuhan sehari-hari. 

Teringat saat masa kanak-kanak ketika saya sering mencuri gorengan Ibu. Gorengan yang akan dijual. Padahal kalau saya ambil baik-baik Ibu tidak akan marah. Gorengan ibu gurih. Apalagi saat masih hangat.

Pagi-pagi ibu sudah membawa dagangannya ke kedai itu. Saat petang menjelang Ibu mengemasnya untuk dibawa pulang. Saya dan saudara-saudara saya membantu ibu mengangkut dagangan itu ke rumah kami yang letaknya sekitar seratus lima puluh meter dari kedai.

Sebelum berjualan di tempat itu ibu jualan bakulan keliling kampung. Ibu baru membuka kedai sederhana di persimpangan menuju kampung, saat jalan kampung dibuka. Di atas sepetak tanah yang dibeli ayah dari seorang kerabat.

"Saya lihat ibumu capek membawa masuk dagangan setiap pagi dan sore waktu itu. Ayah lalu memutuskan untuk membuat kios kecil yang permanen. Kios itu sangat sederhana. Dibuat dalam bentuk panggung," Ayah mengenang sebuah cuplikan masa lalu.

“Saya tidak akan melupakannya seumur hidup,” saya menyela.

“Bertahun-tahun setelah itu, Ayah mencoba berusaha membangun rumah yang layak untuk Ibumu dan kalian semua. Anak-anak saya. Ayah mulai membuat pondasi rumah ini. Beberapa tahun kemudian setelah pondasi Ayah baru bisa melanjutkan pembangunannya. Itupun dengan bahan bangunan rumah lama yang mulai rapuh. Perekatnya tidak menggunakan semen seperti bangunan saat ini tetapi tanah liat. Saat itu semen masih menjadi barang mewah. Ayah membongkar bangunan itu dengan hati-hati. Bahan bongkarannya digunakan lagi untuk membuat rumah ini,” Ayah mengajak saya melakukan refleksi untuk merenungi perjalanan.

Ayah diam sejenak. Tatapannya terpagut seekor cicak di dinding. Hewan yang memiliki keistimewaan perekat di kakinya itu terlihat diam tengah menunggu mangsanya. 

Seekor nyamuk seakan sengaja terbang menjemput kematian menuju mulut cicak Gerakan refleks lidah cicak telah menelan bulat-bulat hewan kecil penghisap darah.

“Kamu lihat cicak itu?”

“Iya. Apa hubungannya dengan rumah ini?”

“Bukan saja tentang rumah ini. Ada nilai hidup yang perlu kamu petik dari seekor cicak.”

“Nilai apa itu?”

“Kesabaran. Cicak itu memiliki kesabaran untuk menunggu mangsanya. Seperti itulah kesabaran Ibumu mendampingi ayah sampai dia mendahului kita semua. Kamu tidak akan pernah menemukan perempuan sesabar, sekuat dan setegar Ibumu. Dalam keadaan paling sulit Ibumu tidak pernah mengeluh. Dia pernah dia mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Berkat kesabarannya pula dia berhasil melewati penyakit itu."

Sebatang rokok di sela jemarinya mengeluarkan asap putih. Pun di jemari saya. Kami diam. Bersama kami menghela dan menghembuskan asap. Gerakannya meliuk-liuk menunjukkan bahwa dalam kondisi paling tenang udara mengalami gerakan.

Asap itu bergerak mencari ketinggian tetapi sayang terjebak dalam ruangan.

Lombok Timur, 26 Juni 2022


Bocah Usil (15)

Dua hari berturut-turut dalam minggu ini saya harus menekan kejengkelan paripurna. Saat itu siang telah menua. Matahari sudah meninggalkan titik kulminasinya. Rimbun pohon mangga di halaman sekolah pun tidak memiliki kekuatan menghalau hawa panas.


Saya keluar dari pintu menuju mesin 4 langkah yang akan membawa saya pulang. Sebuah motor tua yang telah mengabdikan dirinya hampir dua puluh tahun.


Saya naik jok menancapkan kunci. Kaki dan tangan saya bekerja menjalankan fungsinya masing-masing untuk menghidupkan mesin secara manual. Satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya kaki saya terus menggenjot tangkai starter. 


Pada saat yang sama, tangan kanan saya memutar gas mengimbangi genjotan kaki. Serasa tidak ada percikan api pada busi. Kaki ini sudah pegal tetapi mesin tidak juga hidup.


Jarang sekali motor itu mengalami kemacetan. Walaupun tua saya rajin merawatnya. 


Motor tua yang dirawat pasti bertahan lama. Sebaliknya motor baru tetapi tidak dirawat dengan baik akan berumur singkat. Demikian prinsip yang selalu saya pegang erat. 


Saya turun berdiri di sisi kanan dan menginjak tangkai starter. Sekali lagi saya mencoba menghidupkan mesin motor. Tetap saja gagal.


"Tidak mungkin kehabisan BBM," saya membatin sambil berfikir penyebabnya.


Saya berfikir mungkin businya mati. Busi. Ya, busi. Tetapi bagaimana mungkin bisa mati secepat itu. Saya baru menggantinya beberapa hari sebelumnya. Saat krusial itu saya ingat perkataan teman saya bahwa busi bisa mati walaupun masih baru.


Saya putuskan untuk memeriksanya. Tidak ada salahnya. Saya menunduk mengamati busi. Saya tersenyum kecut melihat tutup busi tidak terpasang pada tempatnya. Lepas.


"Ini pasti ulah bocah usil", fikir saya sambil mencoba menghidupkan mesin.

"Geruuuuung. Geruuuuung..!" mesin keluaran masa lalu hidup.


Saya tancap gas. Pulang. Belum sampai  100 meter mesin menunjukkan gejala kehabisan bahan bakar. Padahal sehari sebelumnya saya isi full tanki dengan BBM paling lux di kelasnya.


Saya berhenti memeriksa kran BBM. Saya terperangah. Krannya mengatup. Pantas saja. Saya kembali bergumam lagi, "Ini pasti ulah bocah usil."


Hal yang sama terjadi pada keesokan harinya. Kali mesin hidup normal. Tetapi belum 100 meter roda berputar, gejala kehabisan BBM timbul lagi. Refleks ingatan saya membayangkan kejadian kemarin. Kran BBM. Benar. Posisi kran tertutup.


"Dasar bocah-bocah usil!"

Kamis, 23 Juni 2022

Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Pengembangan Sekolah (14)



Kamis, 23 Juni 2022, saya mengikuti lokakarya ke-7 Program Sekolah Penggerak Angkatan I yang diikuti oleh kepala sekolah dan pengawas. Kegiatan yang dilaksanakan melalui zoom meet dibuka secara Nasional mulai pukul 08.30 wita.

Kegiatan Lokakarya 7, secara umum bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengawas dan kepala sekolah sebagai pendamping dan pemimpin pembelajaran di sekolah. 

Materi lokakarya pada kesempatan ini adalah keterlibatan orang tua dan masyarakat pada pengembangan sekolah

Materi ini penting mengingat pengembangan sekolah merupakan kerja tim yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu pihak itu adalah orang tua dan masyarakat.

Pengembangan sekolah sebagai kerja tim tidak mungkin dapat dilaksanakan secara utuh dan paripurna oleh satu komponen saja. Kepala sekolah tidak akan dapat mewujudkan visi sekolah sebagai dasar pengembangan sekolah tanpa melibatkan unsur-unsur yang berkepentingan baik unsur internal maupun eksternal sekolah.

Tujuan umum lokakarya diharapkan dapat memberikan keterampilan atau kompetensi kepala sekolah dan pengawas dalam pengembangan sekolah. 

Secara spesifik lokakarya ini mengemban tujuan khusus. Pertama, peserta lokakarya mampu memahami strategi pelibatan orang tua dan masyarakat dalam pengembangan sekolah secara berkesinambungan. 

Kedua, peserta lokakarya mampu merumuskan langkah-langkah untuk melibatkan orang tua dan masyarakat dalam pengembangan sekolah.

Praktek Baik Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat

Pada sesi awal, peserta diminta melakukan refleksi yang dimulai dari diri sendiri. Refleksi itu berhubungan dengan praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing sekolah terkait dengan keterlibatan orang tua dan masyarakat. 

Refleksi itu meliputi beberapa hal. Pertama, bentuk keterlibatan orang tua/wali murid dan masyarakat selama ini dalam program sekolah dan bagaimana proses pelibatannya. Setiap peserta memiliki pengalaman yang khas. Hal ini dilatarbelakangi oleh perbedaan sosial dan kultur masyarakat pada setiap sekolah. 

Namun secara umum hasil refleksi peserta memperlihatkan persamaan. Jika persamaan itu dipadatkan dapat ditemukan fakta bahwa rerata wali murid memiliki keterlibatan yang berperan sebagai pemberi dorongan dan semangat kepada anak-anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. 

Hal ini ditunjukkan dengan adanya komunikasi sebagian besar orang tua dan guru secara intens dalam rangka tukar menukar informasi tentang proses dan hasil belajar siswa. Komunikasi ini terjadi ketika siswa mengalami kebuntuan ketika mendapatkan tugas sekolah yang harus diselesaikan di rumah.

Apa yang dilakukan orang tua di atas sebenarnya telah menempatkan dirinya sebagai pendamping, pengawas, dan sumber belajar siswa.

Masyarakat sendiri merupakan pihak yang memiliki peran penting dalam pengembangan sekolah. Hasil refleksi pesrta menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dibuktikan dengan keikutsertaannya menjaga keamanan, kenyamanan, dan kebersihan. Sebagai contoh jika masyarakat menemukan adanya indikasi seseorang hendak melakukan sesuatu yang merugikan sekolah mereka akan berupaya melakukan pencegahan.

Secara umum, keterlibatan orang tua terwujud dalam dua bentuk, yaitu keterlibatan secara moral dan keterlibatan material. Secara moral orang tua memiliki andil dalam pengembangan sekolah. Orang tua, misalnya, sebagian besar melakukan koordinasi dengan guru kelas atau wali kelas dalam proses dan hasil belajar siswa. 

Secara material, dukungan orang tua juga tampak dalam partisipasi dalam pengadaan sarana prasarana sekolah. Dukungan material orang tua dan masyarakat pada setiap sekolah berbeda-beda. 

Pada sesi refleksi peserta juga berupaya menganalisis tantangan yang dihadapi sekolah saat proses pelibatan orang tua dan masyarakat sekaligus strategi yang pernah dilakukan dalam proses pelibatan tersebut.

Rancangan strategi pelibatan orang tua dan masyarakat

Materi lain dalam lokakarya ini adalah bagaimana membuat rancangan strategi dalam rangka peningkatan peran orang tua dan masyarakat. Pada kesempatan ini peserta lokakarya melakukan analisis program yang dilengkapi dengan detail program.

Berdasarkan hasil analisis atau penentuan program sekolah tersebut, peserta melakukan kajian bentuk dukungan yang diperlukan. Hasil kajian itu kemudian dijadikan landasan untuk menentukan pemangku kepentingan atau stakeholder yang dapat dilibatkan 

Paling tidak ada 3 type yang dapat dilakukan sekolah dalam pelibatan, yaitu, connect, engage, dan sustain.

Connect merupakan upaya sekolah membangun hubungan dengan orang tua dan dan masyarakat dalam rangka berpartisipasi mengembangkan satuan pendidikan. Misalnya, sekolah mengundang orang tua siswa hadir pada kegiatan orientasi siswa pada tahun pelajaran baru.

Engage sendiri merupakan upaya sekolah mengikutsertakan orang tua atau masyarakat dalam kesebagai pelatih seni tradisional di sekolah. Misalnya, Sekolah bekerja sama dengan orang tua untuk menjadi narasumber kegiatan parenting di sekolah. Contoh lainnya, sekolah bekerja sama dengan masyarakat setempat untu menjadi pelatih seni tradisional.

Sustain menjadi salah satu type pelibatan yang berupaya mempertahankan peran orang tua dan masyarakat dalam pengembangan sekolah. Salah satu contohnya ketika sekolah secara berkala mengundang komite sekolah untuk mendikusikan tentang program sekolah, kendala yang dihadapi, dan bentuk tindak lanjut yang dapat dilakukan


Lombok Timur, 23 Juni 2022


Rabu, 22 Juni 2022

Tembok Halaman itu Telah Ringkih (13)

Hari itu, seperti sebagian besar hari yang acapkali saya lewati, saya masih tetap dihadapkan pada tuntutan untuk menyelesaikan tugas, seharian duduk di kursi kerja menatap benda yang sama. Laptop. 

Sesekali saya keluar untuk melepaskan penat pinggang dan mendinginkan bokong yang panas karena duduk kelamaan. Di halaman saya nimbrung dengan tukang sekaligus penjaga sekolah yang sedang bekerja memperbaiki tembok halaman yang ringkih. 

Struktur tembok yang dibangun jauh sebelum saya mengajar di sekolah itu tidak menggunakan teknik yang tepat. Pondasi tembok berupa struktur yang cenderung dangkal dan tidak menggunakan sloop. Pilar tembok juga cuma menggunakan bata merah tanpa topangan rangka besi beton. Menurut teknisi bangunan hal ini dapat berpengaruh terhadap kekuatan tembok walaupun tidak memiliki beban.

"Dengan hanya menggunakan sloof di bawah apakah tembok ini cukup kuat dan bisa tahan dalam jangka panjang?" tanya saya pada Wildan, tukang sekaligus penjaga sekolah.

"Dibanding tembok sebelumnya ini lebih kokoh, Pak," Wildan meyakinkan saya sambil terus bekerja.

"Sebenarnya saya lebih cenderung memakai pilar dengan rangka besi beton," saya mengungkapkan pikiran pada Wildan.

"Kalau ada dana saya juga berfikir begitu. Tetapi apa boleh buat, dana sekolah tidak cukup," Wildan juga memberikan pendapat yang sama. "Tetapi dengan sloof di bawah saja sudah kokoh. Saya bisa jamin. Apalagi kalau diberikan sloof di atas lagi," Wildan menambahkan.

Wildan tahu dana perbaikan memang sangat kecil sebab saya selalu memberikan informasi tentang keuangan sekolah.

Dia hanya penjaga tetapi dia memiliki hak untuk memahami kondisi finansial sekolah. Wildan selalu dilibatkan dalam rapat walaupun hanya sebagai pendengar.

Di samping sebagai penjaga Wildan dikenal sebagai tukang bangunan yang andal. Rajin. Hasil kerjanya juga rapi. Tidak terlalu mempermasalahkan besar upah yang diberikan sekolah.

Wildan kerja sendiri tanpa pembantu tukang. Agak repot kelihatannya. Membuat campuran semen pasir sendiri. Mengambil dan meindahkan batu bata sendiri. 

"Kenapa tidak mencari kenek? Pembantu tukang?” tanya saya pada wildan. “Kalau ada yang bantu, kan kerja lebih cepat" pertanyaan itu saya lanjutkan dengan argumen.

Dia tidak menjawab. Wildan menoleh dan tersenyum. Saya menangkap kesan bahwa dia memiliki alasan lain.

"Sekolah kan kekurangan dana Pak. Kalau saya cari pembantu sekolah bisa nombok,” kata Wildan masih sambil bekerja.

“Kalau misalnya kita mengajak walimurid atau masyarakat gotong royong? Bagaimana?” saya mengajukan pertanyaan lain.

Wildan menarik napas dalam-dalam. Wildan diam. Dia menatap susunan batu-bata yang telah dia rekatkan dengan campuran semen pasir seolah mencari jawaban atas ide yang saya lontarkan. Dia merogoh sakunya. Sebungkus rokok keluar bersama sebuah korek api. Diambilnya sebatang rokok. Crek… Crek… Crek! Tiga kali wildan memutar roda pemantik api itu baru menyala. 

“Begini Pak,” katanya dengan mulut sudah tersumbat rokok

“Bakar dan isap dulu rokok itu baru bicara,” saya memberi saran.

Wildan menatap saya dan melempar senyum. Tangannya masih memegang korek api yang tetap menyala di ujung mulutnya. Sebuah helaan panjang dari napasnya memicu bara pada ujung rokoknya. Asap mengepul. Benda ringan berwarna putih itu terbang menjemput terik matahari siang.

“Jadi bagaimana?” saya tidak sabar mendengar jawabnnya.

“Kalau menurut saya sulit mengajak masyarakat gotong royong Pak.”

“Alasannya?”

“Sekolah sudah dapat dana dari pemerintah. Jadi menurut mereka sekolah itu sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Apalagi dengan adanya jargon pendidikan gratis,” Wildan menyampaikan pendapatnya dengan serius.

“Tetapi, Dan... Kalau masyarakat diajak bergotong royong membangun tempat ibadah biasanya responya cepat. Apalagi kalau diminta sumbangan,” saya mengalihkan isu.

“Ya itulah masalahnya,” kata Wildan dengan gaya bicara seperti dialog pemain dalam sebuah drama. 

Wildan melanjutkan, “Ada kesalahan cara berfikir yang berkembang di tengah masyarakat bahwa sumbangan lebih baik jika diserahkan ke tempat-tempat ibadah. Padahal sekolah itu juga menjadi tanggung jawab masyarakat di samping pemerintah.”

“Ternyata Wildan itu masih memiliki pikiran waras,” saya melontarkan sarkas.

“Emang eike gile?”

Saya tertawa. Wildan tertawa. Asap rokok dari mulutnya seakan membawa terbang semua pesan obrolan kami.


Lombok Timur, 22 Juni 2022


Senin, 20 Juni 2022

Nenek Minah Penjual Semangka dan Perajin Ketak (12)

Di sampingnya terdapat sebuah bakul plastik menampung semangka. Di sebelah bakul tergeletak nampan tempat meletakkan semangka yang telah dipotong-potong. Irisan semangka yang ukurannya sama.

Seorang siswa datang dan menyodorkan sekeping uang logam seribu rupiah kepada pemilik semangka. Sebuah tangan keriput menerima kepingan uang itu dan membuka penutup nampan. Tampak dua potong semangka yang tersisa. 

Siswa itu mengangkat satu persatu irisan buah itu. Rupanya anak itu ingin memastikan mana irisan yang lebih besar sebelum menentukan pilihan untuk mengambil salah satu dari semangka itu. Sejak masih anak-anak kita memang sudah memiliki sikap sebagai pembeli untuk memilih barang yang lebih menguntungkan. 

Nenek penjual semangka. Dialah pemilik tangan keriput itu. Saban pagi nenek mangkal di sudut halaman sekolah. Sebut saja Papuk (Nenek) Minah. Bersamanya, Inaq (Ibu) Marni, seorang Ibu penjual nasi berbadan tambun melapak menyediakan sarapan pagi untuk anak-anak. Keduanya berusaha mengais rezeki dengan melayani anak-anak sekolah yang tidak sempat sarapan dari rumah.

Nenek Minah, sambil melayani anak-anak, tangannya terlihat cekatan dan terampil menusuk jarum lalu memasukkan ujung ketak pembentuk anyaman. Di samping jualan semangka, nenek Minah juga membuat kerajinan tangan dari ketak.

Ketak merupakan sejenis tanaman paku-pakuan yang menjalar pada tanaman tertentu. Tanaman itu dijadikan bahan baku untuk membuat berbagai bentuk barang kerajinan, seperti, nampan, bakul, piring, kotak tisu, dan berbagai souvenir. Sebelum digunakan sebagai bahan dasar anayman, ketak dikeringkan terlebih dahulu selanjutnya di raut. Sebagian dibelah sebagai pengikat anyaman.

"Kalau sebesar itu harganya berapa, Nek?" saya bertanya sembari memegang hasil anyaman ketak yang belum selesai. Bentuknya seperti bangun silinder dengan tinggi sekitar 25 cm dan diameter kurang lebih 20 cm.

"Dua ratus lima puluh sampai tiga ratus ribu," jawab Nenek Minah.

Tatapannya terlihat bolak balik ke arah dua titik, saya dan barang anyaman. Sesekali dia harus melayani anak-anak pemburu irisan semangka.

Tangannya berulang kali menusukkan sebuah jarum untuk memasukkan ujung-ujung ketak sebagai pengikat sekaligus motif dan pembentuk hasil anyaman. Sesekali dia mengambil sebilah pisau kecil dan meraut ketak agar memiliki ukuran yang sama dan kelihatan lebih rapi.

Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kecakapan. Melihat gerakan tangannya Nenek Minah sudah memiliki keduanya. Ketelitian dan kecakapan menganyam. Setiap kali menambahkan anyaman, nenek Minah memeriksa dulu batang ketak. Jika ukurannya lebih besar Nenek merautnya sampai benar-benar sesuai dan batang ketak lebih halus.

“Berapa lama bisa selesai dengan ukuran sebesar ini?” saya melanjutkan perbincangan.

Dia diam sejenak. Ibu Marni, berbadan tambun, penjual nasi menengok ke arahnya. Ibu Marni tersenyum membidik tatapannya ke arah saya. Saya melakukan hal yang sama pada Bu Marni. Tatapan matanya seakan ingin segera menjawab pertanyaan saya yang mungkin terlihat penasaran. 

Sambil melayani anak-anak yang minta nasi, Ibu Marni nyeletuk, “Bisa dua hari kalau tidak ada pekerjaan lain.”

“Dua hari?”

“Ya. dua hari, Itupun kalau dilakukan secara rutin,” Nenek Minah ikut meyakinkan.

“Wah. Lama ya baru bisa selesai. Terus harga bahannya berapa?”
“Biasanya dijual dalam bentuk ikatan. Seikat harganya tujuh puluh lima ribu’” Ibu Marni menjelaskan. 

“Belum lagi ketak pengikat yang sudah dibelah. Itu sekitar dua puluh lima ribu,” imbuh Nenek sambil menuntaskan anyamannya."

“Berapa ikat yang dibutuhkan untuk membuat anyaman sebesar itu?”

“Bisa  tiga ikat. Tergantung ukurannya.” jawab Nenek Minah.

“Berarti modalnya kalau 3 ikat dua ratus dua puluh lima ribu ditambah ketak pengikat dua puluh lima ribu. Modal semuanya 225 ribu. Harga jual maksimal 300 ribu. Nenek hanya mendapatkan 75 ribu untuk menghasilkan sebuah anyaman ketak selama 2 hari,” saya membatin sendiri.

“Lalu nenek jual ke mana?” saya bertanya lagi.

“Ada pengepulnya. Biasanya mereka datang sendiri untuk mengambil.”

Saya mencoba googling untuk menemukan informasi tentang anyaman ini. Sejumlah sumber melansir bahwa hasil kerajinan itu mampu mengangkat nama daerah karena pemasarannya sudah menembus mancanegara. 

Ini berarti mampu mendongkrak nama dan perekonomian daerah. Sayang pekerja anyaman seperti Nenek Minah tidak mampu bertahan hanya hanya dengan mengandalkan hasil anyaman ketaknya. Dia masih harus jualan semangka.

“Saat musim tembakau saya tidak membuat anyaman. Saya ikut bekerja harian menyiram, memupuk, atau panen tembakau,” kata Nenek Minah sambil menganyam ketaknya.

Nenek Minah terus menganyam. Ketak pengikat terus dililitkan ke batangan ketak ke batangan ketak lainnya  Nenek telus melilit sampai setiap utas lilitan ketak itu selesai.

Melihat Nenek Minah tengah memainkan jarum kecilnya, saya ingat pepatah sasak “Ngengalik isik jaum”. Secara harfiah berarti menggali dengan jarum. Sebuah pepatah sebagai metapora terhadap orang-orang kecil dengan penghasilan kecil. Hasil galiannya atau penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk hidup sehari.

Lombok Timur, 21 Juni 2022

Minggu, 19 Juni 2022

Membuat Roll Colokan Listrik dengan Jerigen Bekas (11)

dokpri

Banyak barang-barang bekas di lingkungan sekitar yang tidak terpakai tetapi sebenarnya dapat difungsikan dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pada artikel ini saya mencoba berbagi kepada kompasianer bagaimana cara mengubah jerigen bekas menjadi cok roll listrik yang unik.

Sebelum membuat cok roll, sebaiknya persiapkan alat dan bahannya. Hal ini penting agar proses pembuatannya dapat dilakukan dengan baik.

Bahan bahan yang dibutuhkan untuk membuat Cok roll terdiri dari jerigen bekas. Dalam hal ini saya menggunakan jerigen bekas oli. Bahan lainnya pipa 2 in sepanjang 6-10 cm, dop 2 in, sebuah stop kontak tanam, 2 buah steker, dan kabel sepanjang 10 m (panjang kabel bisa lebih sesuai kebutuhan).

Sedangkan alat yang dibutuhkan terdiri dari bor listrik dan mata bor halsaw. Jika tidak ada bor bisa siapkan pisau cutter. Peralatan lainnya yang harus disiapkan adalah obeng.

Cara membuatnya dapat dimulai dengan melubangi jerigen pada sisi kiri tembus sampai sisi kanan. Sebaiknya lubang dibuat pada bagian tengah jerigen. Untuk melubangi jerigen gunakan bor listrik dengan mata halsaw berdiameter sebesar pipa 2 in. Lubang lainnya dibuat pada salah satu sisi depan atau belakang jerigen dengan ukuran sebesar kabel. Usahakan agar kabel longgar keluar masuk.

Jika tidak memiliki bor dapat menggunakan cutter dengan terlebih dahulu membuat pola lingkaran sebesar pipa yang disediakan tadi. Buat pula lubang kecil seukuran kabel di tengah pipa sebagai lubang masuk kabel dalam jerigen.

Dokpri

Masukkan pipa ke dalam lubang besar yang telah dibuat pada salah satu sisi pipa sampai tembus ke lubang sisi lainnya. Langkah berikutnya masukkan salah satu ujung kabel ke dalam lubang kecil jerigen yang telah dibuat. Ujung kabel tersebut diteruskan ke lubang kecil yang telah dibuat pada pertengahan pipa. Tarik ujung kabel keluar melalui salah satu lubang pipa. Sambungkan ujung kabel tersebut dengan stop kontak tanam. Buatlah simpul pada ujung kabel agar tidak terlepas dari stop kontak. Gunakan obeng untuk menyambung ujung pipa dan stop kontak tersebut. 

Selanjutnya longgarkan bolt (baut) pada besi pengait pada stop kontak. Masukkan stop kontak yang sudah terhubung dengan kabel tadi ke ujung pipa. Eratkan bolt (baut) pengait dengan obeng. Potong ujung pipa pada sisi lain jerigen jika terlalu panjang. Sisakan potongan ujung pipa untuk memasang dop (penutup pipa). Agar kabel mudah digulung pasangkan tangkai pemutar pada dop. Untuk tangkai pemutar dapat dikreasikan sesuai selera. Sambungkan pula ujung kabel lain dengan steker yang sudah disiapkan.

Jika membutuhkan banyak lubang colokan buatlah colokan lain menggunakan kabel pendek dengan stop kontak 3 atau 4 lubang yang disambungkan dengan steker. Tempelkan stop kontak tersebut ke salah satu sisi jerigen. Hubungkan stop kontak tersebut dengan mamasukkan ujung steker ke stop kontak 1 lubang pada steker.

Demikian panduan membuat cok roll dengan jerigen bekas. Semoga bermanfaat. 

Lombok Timur, 19 Juni 2022


Sabtu, 18 Juni 2022

Saya Dipalak Siswa (10)


“Waktu istirahat tiba,” demikian bunyi aplikasi pengaturan jam belajar terdapat perangkat sound system milik sekolah.

Sejak pagi saya sendiri duduk di atas kursi hidrolik dalam ruang kerja menghadapi layar laptop untuk menyelesaikan beberapa naskah tentang laporan kegiatan sekolah. Biasanya di atas meja saya selalu menyediakan sebotol air mineral. Tetapi hari itu hanya ada botol plastik kosong. Saya mengambil botol itu dan keluar untuk melepaskan penat dan merefresh pikiran.

Saya berdiri di pintu yang berhadapan dengan halaman sekolah. Tampak anak-anak telah berhamburan ke luar untuk memanfaatkan jam istirahat. Sejumlah siswa laki-laki berlari ke halaman sekolah. Salah satunya membawa bola. Dalam waktu singkat sudah siaga dua tim sepak bola yang siap bertanding. Harusnya terdiri dari sebelas orang untuk masing-masing tim. Tetapi anggota tim sepak bola itu berbeda. Salah satunya terdiri dari 6 orang. Tim lainnya 8 orang.

Pertandingan sepak bola dimulai tanpa wasit, tanpa batas waktu. Saat permainan sudah berjalan, tidak ada bola keluar lapangan, handball, atau offside. Bola itu seolah pasrah disepak dari satu kaki ke kaki lainnya.

Sebagian besar anak laki-laki memang suka bola. Energi mereka untuk mengejar bola seperti tidak ada habisnya. Mereka tak kenal lelah. Bahkan usai sekolah mereka tidak langsung pulang. Dalam cuaca panas paling ekstrem mereka seperti memiliki suplai tenaga yang tidak berkurang sedikitpun. Kulit mereka seperti kebal dengan terik matahari..

Saya tersenyum menyaksikan aksi bocah-bocah itu. Pemandangan itu membuat lukisan masa kecil saat saya juga melakukan hal yang sama. Hanya saja bolanya bukan bola seperti sekarang. Saya dan teman-teman membuat bola dari lapisan gedebog pisang yang telah mengering. Gedebog itu digulung sehingga membentuk bulatan sebesar bola. Agar gedebog tidak terurai bola itu diikat tali dengan membuat simpul di sekujur permukaannya.

Masih lekat dalam ingatan, permainan itu dilakukan di sawah saat musim kemarau. Tanah sedang mengering dan pecah-pecah. Anak-anak sekarang tidak pernah membayangkan bagaimana bermain di atas permukaan tanah sawah dengan lubang menganga. Tanpa sepatu.

Ah. Betapa indahnya masa kecil. Hidup tanpa beban kecuali beban tugas dari sekolah. Selebihnya hanya keceriaan. Atau kesedihan sementara saat menyaksikan teman-teman memiliki mainan baru. Atau ketika lebih besar lagi, kesedihan anak-anak masa kini ketika melihat teman-teman memiliki handphone dan asyik main game atau nonton tiktok.

“Adit,” seorang siswa melintas di hadapan saya. 

Aditya siswa kelas 6. Hari itu Aditya tidak ikut main bola. Dia paling sering saya minta bantuannya untuk membeli sesuatu pada sebuah kios kecil dekat sekolah. Jika Adit tidak ada saya minta bantuan siswa lain. Mendengar namanya dipanggil Aditya berlari kecil menhampiri saya.

“Adit tidak ikut main?”

:Tidak Pak.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Ada tugas diberikan Pak Samsul, Apa yang mau dibelikan Pak?”

Rupanya Adit tahu kalau saya membutuhkan bantuannya. Saya memang sering meminta bantuannya untuk membeli sesuatu atau membuang stok sampah yang sudah memenuhi bak kecil di sudut ruangan saya. Atau hal lain yang memungkinkan dilakukan anak-anak seusianya.

“Saya butuh air minum,”

“Air minum?”

“Ya. Air minum.”
“Yang kemarin sudah habis?”

“Habis.”

“Sekarang mau beli lagi?”

“Ya, begitu. Ini uangnya. Belikan yang botol besar. Sekalian masukkan botol ini ke dalam karung.”

Saya memberikan botol plastik kosong untuk dikumpulkan dengan botol bekas lainnya. Sekolah berinisiatif mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijadikan bahan ecobrick. Sebuah program sekolah yang bertujuan mengurangi sampah di sekitar sekolah.

Saya juga menyodorkan selembar 20 ribuan. Aditya tersenyum sumringah. Senyum itu menunjukkan sebuah harapan bahwa saya akan memberikan sebagian uang kembalian kepadanya. Memang begitu. Biasanya saya selalu memberikan uang kepada anak-anak kalau saya meminta mereka membeli sesuatu. Tidak banyak. Tetapi itu cukup membuat mereka senang. Mungkin dengan begitu mereka merasa dihargai.

“Ke mana Dit?” tanya Topan teman sekelasnya di gerbang sekolah sambil berlari mengejar Aditya. Pada saat yang sama, tampak Heri, Reza, dan Yuga menyusul di belakangnya.

Sepuluh menit berlalu, Aditya sudah kembali dengan sebotol air mineral produk lokal. Aditya langsung menuju ruangan saya. Dia melangkah masuk dengan sedikit membungkukkan tubuh sebagai sikap hormat.

“Ini airnya, Pak,” 

Terima kasih, ya,” tanpa menoleh saya terus berkonsentrasi pada screen laptop.

Aditya hanya diam dan meletakkan botol itu di atas meja. Di samping botol, dia juga meletakkan uang kembalian. Aditya membalikkan badan hendak keluar.

“Adit!” saya memanggilnya sebelum langkahnya mencapai pintu.

“Iya Pak.”

Saya melirik uang kembalian di atas meja. Ada selembar uang 10 ribu, dua lembar 2 ribu, dan sekeping uang logam seribu rupiah. Saya mengambil selembar 2 ribu dan kepingan logam.

“Ini buat Adit.”

Lamat-lamat saya melihat keraguan Aditya menerima uang itu.Dia menunduk melihat uang tiga ribu. Mimiknya se[erti sedang menghitung sesuatu.

“Ada apa Dit? Bawa saja uangnya. Kamu bisa jajan dengan uang itu.”

“Iya. Tapi…,” kalimat Aditya tersendat.

“Tapi apa…? Tumben kamu tidak mau dikasih uang. Biasanya kan….”

“Bukan begitu, Pak. Saya tadi beli air minumnya berlima. Ada Topan, Heri, Reza, dan Yuga. Kalau diberikan seribu-seribu dua orang tidak kebagian.”

“Kalau begitu bawa sini uangnya!”

Aditya ragu. Mungkin dikiranya saya tidak akan memberikan uang. Saya mengambil uang 10 ribu di atas meja.

“Ini bawa dan bagi ke teman-temanmu. Kalau dibagi lima masing-masing dapat berapa?”

“Dua ribu.” Aditya menjawab cekatan seperti peserta cerdas cermat.

“Gliran bagi duit kamu kok pintar? Ini ambil. Kamu telah memalak saya kalau begini,” saya mengatakannya sambil tersenyum. Aditya tertawa cengengesan oenuh girang.

Ternyata di luar ruangan empat temannya sudah menunggu. Ada suara tawa renyah lima sekawan dari balik dinding.

Dua hari berlalu setelah kejadian, lima sekawan tengah berkumpul di bawah rimbun pohon halaman sekolah. Saya melangkah menuju motor yang diparkir dekat mereka.

“Ke mana, Pak?” tanya Aditya.

“Ada undangan rapat di kantor Dinas.”

Aditya, Topan, Heri, Reza, dan Yuga mendatangi dan menyalami saya.

“Kapan beli air lagi?”

“Sekarang saya tidak minum air mineral lagi. Saya minum air kran. Kapok dipalak kalian.”

Tawa lima sekawan itu meledak Saya tersenyum melihat tingkah mereka. Saya tahu mereka mencandai saya. Mungkin mereka merasa berhadapan dengan orang tua mereka sendiri. Setidaknya canda itu menunjukkan bahwa mereka merasa dekat dengan saya. Berbeda jika mereka merasakan ada jarak. Bisa jadi mereka akan menjauh dan saya tidak dapat menikmati candaan anak-anak itu.


Lombok Timur, 19 Juni 2022


Jumat, 17 Juni 2022

Plafond Masjid itu Rusak (9)

Ukuran bangunannya 200 M2. Dibangun belasan tahun silam. Sumber biaya pembangunannya berasal dari seorang pengusaha kaya. Pendermanya seorang warga sebuah negara di Timur Tengah dari marga Al-Atthas. Konon marga ini terkenal kaya dan selalu menyisihkan sebagian hartanya untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan di berbagai negara.

Bangunan yang berdiri di atas tanah yang diwakafkan salah seorang warga itu berada di seberang jalan. Ke sanalah ayah secara rutin mengimami shalat lima waktu. Saat masih hidup dan mampu berjalan ke masjid, Ibu menjadi salah satu makmum paling setianya. 

Sayang sekitar 2 sampai 3 tahun sebelum kepergiannya Ibu tidak kuat lagi untuk mencapai masjid. Lututnya yang ringkih membuat ibu tidak kuat berjalan. Maka beliau hanya shalat di rumah saja.

Namun ayah tetap ke masjid untuk mengimami shalat. Sesekali saja beliau shalat di rumah mengimami Ibu. Itupun kalau diminta Ibu atau Ayah sedang sakit dan merasa tidak kuat ke masjid. Jika ayah tidak ada, saya menggantikan beliau mengimami shalat.

Sebagaimana Ayah menjaga shalat, beliau juga sangat menjaga masjid. Beliau berupaya agar masjid selalu nyaman dan bersih. Untuk itu beliau bersama warga sepakat menunjuk seorang marbot. Jika ada bagian masjid yang perlu perbaikan, Ayah selalu gelisah sampai perbaikan itu dapat dlakukan.

“Asuransi Ibumu sudah keluar,” kata Ayah usai shalat ashar beberapa bulan yang lalu.

Ayah berdiri di halaman masjid sambil menatap tembok halaman masjid yang belum rampung. Beberapa saat Ayah diam. Beliau tampak sedang berfikir tentang sesuatu. Beliau terus mengamati tembok halaman masjid. Sesekali kepalanya menengok ke arah lain seakan mencari jawaban atas sebuah pertanyaan yang sedang diajukan seseorang. 

“Saya memiliki rencana dengan dana asuransi itu,” Ayah melanjutkan pembicaraan. 

Setiap bentuk keuangan Ayah selalu bercerita pada saya. Beliau biasanya memberitahukan sumbernya dan rencana penggunaannya. Padahal itu uang sendiri. Andaipun beliau tidak bercerita kepada saya sebenarnya tidak ada masalah. Begitulah ayah. Sikapnya yang terbuka membuat saya menjadi terbuka juga. Bahkan Ayah sering menyisihkan uangnya untuk saya. Saya selalu menolak.

“Tidak usah. Jangan! Pakai saja untuk Ayah!” saya berusaha menolakn jika Ayah menyodorkan uangnya.

“Saya berikan untuk anak-anakmu,” begitu Ayah berdalih.

Ayah tidak kehilangan akal. Saat saya menolak menerima pemberiannya, beliau akan memanggil cucunya. Fikri, Irsyad, Hanif, Azril, Tantowi, Khalqi, dan Bagas. Anak-anak itu akan menjadi sasaran pemberiannya.

Ayah adalah ayah. Hatinya tetap seorang Ayah. Beliau tidak selalu berpikir tentang dirinya. Saat anak-anaknya sudah dewasa, Ayah masih tetap memikirkan kami, anak-anaknya, cucunya. 

Tidak saja terhadap anak-anaknya. Tetapi kepada semua keluarga dan kerabat. Ayah selalu penuh perhatian. Itu sebabnya keluarga yang pulang dari rantauan, Ayah menjadi orang pertama yang ditemui. Biasanya mereka memilih menginap di rumah Ayah. 

“Ayah punya rencana apa?” saya bertanya sambil ikut memandangi tembok halaman masjid

“Tembok halaman ini belum selesai. Masih harus dipasangi teralis. Kebersihan masjid perlu dijaga. Terutama dari hewan ternak warga seperti ayam. Hewan itu buang kotoran sembarang. Di halaman, teras, dan tempat wudhu. Rencana awalnya dulu dipasangi teralis untuk menjaga keamanan masjid. Terutama kebersihan masjid dari hewan peliharaan warga yang sering buang kotoran di sekitar masjid. Tetapi keuangan masjid nihil sehingga pemasangannya tertunda,” Ayah menjelaskan panjang lebar.

“Itu juga menjadi pikiran saya. Mungkin sekarang kita harus mulai memikirkan bagaimana rencana pemasangan teralis itu kita percepat. Kalau melibatkan warga saya pikir agak sulit. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Zainal di kampung sebelah mengeluh. Truck dumpnya jarang keluar karena tidak ada orderan pasir, tanah, atau batu. Untuk makan saja sulit apalagi membangun rumah atau melakukan perbaikan.”

“Saya juga berfikir begitu. Rasanya berat melibatkan warga dengan kondisi sekarang. Tetapi saya punya rencana,” kata Ayah terlihat yakin.

“Rencana apa?”

“Saya berniat menggunakan uang asuransi Ibumu untuk membiayai memasang teralis itu. Bagaimana pendapatmu,”

“Oh, Saya sangat setuju. Apalagi ini untuk kebaikan bersama. Setuju.” saya menanggapi usul Ayah.

Sejak pemasangan teralis itu, lingkungan masjid sekarang lebih nyaman. Tidak ada hewan peliharaan atau hewan liar yang bisa masuk. Warga tidak perlu was-was naik di teras masjid atau mengambil air wudhu karena area masjid sudah aman dari najis yang berpotensi membuat shalat tidak sah.

Beberapa hari yang lalu ketika keluar dari masjid Ayah menunjukkan kepada saya salah satu bagian plafond masjid.

“Coba lihat! Beberapa bagian plafondnya sudah jatuh,” kata ayah dengan tekunjuk kanan mengarah ke plafond.

“Bahan plafond seperti itu memang rawan jatuh. Namanya Gysum. Bagian dalamnya seoerti terigu. Tebal dan berat. Tidak kuat dipaku. Kalau kena air sepertinya cepat mengalami pelapukan,” saya menjelaskan.

“Ini perlu ditangani. Tetapi saat ini Masjid kehabisan kas,” kata Ayah menunduk. 

Lombok Timur, 18 Juni 2022

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

  Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari ...