Rumah ayah adalah rumah saya masa kecil. Mengapa rumah ayah. Karena ibu telah pergi. Pergi mendahului kami.
Rumah itu memahat banyak kenangan, tempat saya dan saudara-saudara tumbuh besar dan menjadi dewasa dalam kasih sayang paripurna dari orang tua. Bahkan beberapa tahun setelah mengakhiri masa lajang, saya masih tinggal di rumah itu.
Rumah yang pernah saya jalani sebagai sasaran gerutu Ibu. Gerutu seorang ibu yang penuh kasih karena yang mendapati saya belum bangun saat pagi sudah memberikan kemampuan kepada mata-mata untuk membedakan benang putih dan bulu tangan. Atau ketika saya diserang kantuk lalu pulang tengah malam mengetuk pintu setelah keluyuran.
Rumah itu ada tiga kamar tidur utama. Sebuah ruang tamu yang cukup luas, untuk ukuran perumahan di kampung, menghadap halaman rumah. Di depan ada bangunan kios dimana almarhumah Ibu mencurahkan seluruh hidupnya untuk membantu Ayah menghidupi keluarga.
Halaman rumah itu juga cukup luas dan lapang. Seluas dan selapang dadanya melihat kenakalan normatif masa kecil anak-anaknya.
Malam itu saya tidur di rumah ayah. Tidak tega melihatnya tidur sendiri. Saya bergiliran dengan adik perempuan saya. Fitri.
“Kamu tentu ingat saat rumah ini dibangun?” entah bagaimana alur pembicaraan kami malam itu sampai ayah mulai mengulas tentang rumah.
“Saya masih ingat, Ayah,”
“Belasan tahun baru bisa menjadi sebuah bangunan utuh,” Ayah melanjutkan.
“Di sudut itu dulu ibumu mulai berjualan. Di sebuah bangunan kedai beratap ilalang,” Ayah menunjuk ke arah bangunan kios dimana Ibu seharian menunggu barang dagangannya.
“Saya ingat. Ibu menggelar dagangannya di atas lincak,” saya mengenangnya.
Nyaris sepanjang hidupnya Ibu menjalani kegiatan berdagang. Ibu jualan macam-macam, jajanan pasar, permen, buah-buahan, bumbu dapur, mainan anak-anak, dan beragam kebutuhan sehari-hari.
Teringat saat masa kanak-kanak ketika saya sering mencuri gorengan Ibu. Gorengan yang akan dijual. Padahal kalau saya ambil baik-baik Ibu tidak akan marah. Gorengan ibu gurih. Apalagi saat masih hangat.
Pagi-pagi ibu sudah membawa dagangannya ke kedai itu. Saat petang menjelang Ibu mengemasnya untuk dibawa pulang. Saya dan saudara-saudara saya membantu ibu mengangkut dagangan itu ke rumah kami yang letaknya sekitar seratus lima puluh meter dari kedai.
Sebelum berjualan di tempat itu ibu jualan bakulan keliling kampung. Ibu baru membuka kedai sederhana di persimpangan menuju kampung, saat jalan kampung dibuka. Di atas sepetak tanah yang dibeli ayah dari seorang kerabat.
"Saya lihat ibumu capek membawa masuk dagangan setiap pagi dan sore waktu itu. Ayah lalu memutuskan untuk membuat kios kecil yang permanen. Kios itu sangat sederhana. Dibuat dalam bentuk panggung," Ayah mengenang sebuah cuplikan masa lalu.
“Saya tidak akan melupakannya seumur hidup,” saya menyela.
“Bertahun-tahun setelah itu, Ayah mencoba berusaha membangun rumah yang layak untuk Ibumu dan kalian semua. Anak-anak saya. Ayah mulai membuat pondasi rumah ini. Beberapa tahun kemudian setelah pondasi Ayah baru bisa melanjutkan pembangunannya. Itupun dengan bahan bangunan rumah lama yang mulai rapuh. Perekatnya tidak menggunakan semen seperti bangunan saat ini tetapi tanah liat. Saat itu semen masih menjadi barang mewah. Ayah membongkar bangunan itu dengan hati-hati. Bahan bongkarannya digunakan lagi untuk membuat rumah ini,” Ayah mengajak saya melakukan refleksi untuk merenungi perjalanan.
Ayah diam sejenak. Tatapannya terpagut seekor cicak di dinding. Hewan yang memiliki keistimewaan perekat di kakinya itu terlihat diam tengah menunggu mangsanya.
Seekor nyamuk seakan sengaja terbang menjemput kematian menuju mulut cicak Gerakan refleks lidah cicak telah menelan bulat-bulat hewan kecil penghisap darah.
“Kamu lihat cicak itu?”
“Iya. Apa hubungannya dengan rumah ini?”
“Bukan saja tentang rumah ini. Ada nilai hidup yang perlu kamu petik dari seekor cicak.”
“Nilai apa itu?”
“Kesabaran. Cicak itu memiliki kesabaran untuk menunggu mangsanya. Seperti itulah kesabaran Ibumu mendampingi ayah sampai dia mendahului kita semua. Kamu tidak akan pernah menemukan perempuan sesabar, sekuat dan setegar Ibumu. Dalam keadaan paling sulit Ibumu tidak pernah mengeluh. Dia pernah dia mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Berkat kesabarannya pula dia berhasil melewati penyakit itu."
Sebatang rokok di sela jemarinya mengeluarkan asap putih. Pun di jemari saya. Kami diam. Bersama kami menghela dan menghembuskan asap. Gerakannya meliuk-liuk menunjukkan bahwa dalam kondisi paling tenang udara mengalami gerakan.
Asap itu bergerak mencari ketinggian tetapi sayang terjebak dalam ruangan.
Lombok Timur, 26 Juni 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar