Dua hari berturut-turut dalam minggu ini saya harus menekan kejengkelan paripurna. Saat itu siang telah menua. Matahari sudah meninggalkan titik kulminasinya. Rimbun pohon mangga di halaman sekolah pun tidak memiliki kekuatan menghalau hawa panas.
Saya keluar dari pintu menuju mesin 4 langkah yang akan membawa saya pulang. Sebuah motor tua yang telah mengabdikan dirinya hampir dua puluh tahun.
Saya naik jok menancapkan kunci. Kaki dan tangan saya bekerja menjalankan fungsinya masing-masing untuk menghidupkan mesin secara manual. Satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya kaki saya terus menggenjot tangkai starter.
Pada saat yang sama, tangan kanan saya memutar gas mengimbangi genjotan kaki. Serasa tidak ada percikan api pada busi. Kaki ini sudah pegal tetapi mesin tidak juga hidup.
Jarang sekali motor itu mengalami kemacetan. Walaupun tua saya rajin merawatnya.
Motor tua yang dirawat pasti bertahan lama. Sebaliknya motor baru tetapi tidak dirawat dengan baik akan berumur singkat. Demikian prinsip yang selalu saya pegang erat.
Saya turun berdiri di sisi kanan dan menginjak tangkai starter. Sekali lagi saya mencoba menghidupkan mesin motor. Tetap saja gagal.
"Tidak mungkin kehabisan BBM," saya membatin sambil berfikir penyebabnya.
Saya berfikir mungkin businya mati. Busi. Ya, busi. Tetapi bagaimana mungkin bisa mati secepat itu. Saya baru menggantinya beberapa hari sebelumnya. Saat krusial itu saya ingat perkataan teman saya bahwa busi bisa mati walaupun masih baru.
Saya putuskan untuk memeriksanya. Tidak ada salahnya. Saya menunduk mengamati busi. Saya tersenyum kecut melihat tutup busi tidak terpasang pada tempatnya. Lepas.
"Ini pasti ulah bocah usil", fikir saya sambil mencoba menghidupkan mesin.
"Geruuuuung. Geruuuuung..!" mesin keluaran masa lalu hidup.
Saya tancap gas. Pulang. Belum sampai 100 meter mesin menunjukkan gejala kehabisan bahan bakar. Padahal sehari sebelumnya saya isi full tanki dengan BBM paling lux di kelasnya.
Saya berhenti memeriksa kran BBM. Saya terperangah. Krannya mengatup. Pantas saja. Saya kembali bergumam lagi, "Ini pasti ulah bocah usil."
Hal yang sama terjadi pada keesokan harinya. Kali mesin hidup normal. Tetapi belum 100 meter roda berputar, gejala kehabisan BBM timbul lagi. Refleks ingatan saya membayangkan kejadian kemarin. Kran BBM. Benar. Posisi kran tertutup.
"Dasar bocah-bocah usil!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar