Hari itu, seperti sebagian besar hari yang acapkali saya lewati, saya masih tetap dihadapkan pada tuntutan untuk menyelesaikan tugas, seharian duduk di kursi kerja menatap benda yang sama. Laptop.
Sesekali saya keluar untuk melepaskan penat pinggang dan mendinginkan bokong yang panas karena duduk kelamaan. Di halaman saya nimbrung dengan tukang sekaligus penjaga sekolah yang sedang bekerja memperbaiki tembok halaman yang ringkih.
Struktur tembok yang dibangun jauh sebelum saya mengajar di sekolah itu tidak menggunakan teknik yang tepat. Pondasi tembok berupa struktur yang cenderung dangkal dan tidak menggunakan sloop. Pilar tembok juga cuma menggunakan bata merah tanpa topangan rangka besi beton. Menurut teknisi bangunan hal ini dapat berpengaruh terhadap kekuatan tembok walaupun tidak memiliki beban.
"Dengan hanya menggunakan sloof di bawah apakah tembok ini cukup kuat dan bisa tahan dalam jangka panjang?" tanya saya pada Wildan, tukang sekaligus penjaga sekolah.
"Dibanding tembok sebelumnya ini lebih kokoh, Pak," Wildan meyakinkan saya sambil terus bekerja.
"Sebenarnya saya lebih cenderung memakai pilar dengan rangka besi beton," saya mengungkapkan pikiran pada Wildan.
"Kalau ada dana saya juga berfikir begitu. Tetapi apa boleh buat, dana sekolah tidak cukup," Wildan juga memberikan pendapat yang sama. "Tetapi dengan sloof di bawah saja sudah kokoh. Saya bisa jamin. Apalagi kalau diberikan sloof di atas lagi," Wildan menambahkan.
Wildan tahu dana perbaikan memang sangat kecil sebab saya selalu memberikan informasi tentang keuangan sekolah.
Dia hanya penjaga tetapi dia memiliki hak untuk memahami kondisi finansial sekolah. Wildan selalu dilibatkan dalam rapat walaupun hanya sebagai pendengar.
Di samping sebagai penjaga Wildan dikenal sebagai tukang bangunan yang andal. Rajin. Hasil kerjanya juga rapi. Tidak terlalu mempermasalahkan besar upah yang diberikan sekolah.
Wildan kerja sendiri tanpa pembantu tukang. Agak repot kelihatannya. Membuat campuran semen pasir sendiri. Mengambil dan meindahkan batu bata sendiri.
"Kenapa tidak mencari kenek? Pembantu tukang?” tanya saya pada wildan. “Kalau ada yang bantu, kan kerja lebih cepat" pertanyaan itu saya lanjutkan dengan argumen.
Dia tidak menjawab. Wildan menoleh dan tersenyum. Saya menangkap kesan bahwa dia memiliki alasan lain.
"Sekolah kan kekurangan dana Pak. Kalau saya cari pembantu sekolah bisa nombok,” kata Wildan masih sambil bekerja.
“Kalau misalnya kita mengajak walimurid atau masyarakat gotong royong? Bagaimana?” saya mengajukan pertanyaan lain.
Wildan menarik napas dalam-dalam. Wildan diam. Dia menatap susunan batu-bata yang telah dia rekatkan dengan campuran semen pasir seolah mencari jawaban atas ide yang saya lontarkan. Dia merogoh sakunya. Sebungkus rokok keluar bersama sebuah korek api. Diambilnya sebatang rokok. Crek… Crek… Crek! Tiga kali wildan memutar roda pemantik api itu baru menyala.
“Begini Pak,” katanya dengan mulut sudah tersumbat rokok
“Bakar dan isap dulu rokok itu baru bicara,” saya memberi saran.
Wildan menatap saya dan melempar senyum. Tangannya masih memegang korek api yang tetap menyala di ujung mulutnya. Sebuah helaan panjang dari napasnya memicu bara pada ujung rokoknya. Asap mengepul. Benda ringan berwarna putih itu terbang menjemput terik matahari siang.
“Jadi bagaimana?” saya tidak sabar mendengar jawabnnya.
“Kalau menurut saya sulit mengajak masyarakat gotong royong Pak.”
“Alasannya?”
“Sekolah sudah dapat dana dari pemerintah. Jadi menurut mereka sekolah itu sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Apalagi dengan adanya jargon pendidikan gratis,” Wildan menyampaikan pendapatnya dengan serius.
“Tetapi, Dan... Kalau masyarakat diajak bergotong royong membangun tempat ibadah biasanya responya cepat. Apalagi kalau diminta sumbangan,” saya mengalihkan isu.
“Ya itulah masalahnya,” kata Wildan dengan gaya bicara seperti dialog pemain dalam sebuah drama.
Wildan melanjutkan, “Ada kesalahan cara berfikir yang berkembang di tengah masyarakat bahwa sumbangan lebih baik jika diserahkan ke tempat-tempat ibadah. Padahal sekolah itu juga menjadi tanggung jawab masyarakat di samping pemerintah.”
“Ternyata Wildan itu masih memiliki pikiran waras,” saya melontarkan sarkas.
“Emang eike gile?”
Saya tertawa. Wildan tertawa. Asap rokok dari mulutnya seakan membawa terbang semua pesan obrolan kami.
Lombok Timur, 22 Juni 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar