Kamis, 09 Juni 2022

Bangun Kesiangan, Uang Jajan, dan Yasinan (1)


Pagi Jum'at. 10-06-2022, saya bangun terlambat. Ini gegara tidur agak larut.  Hari ini untuk ke sekian kalinya saya tidak berziarah ke pusara Ibu pada setiap pagi Jum'at. Saya agak pusing. Saya tidur lagi setelah subuh. Segelas kopi membangunkan saya disusul sepiring sarapan pagi dengan menu seadanya.

Semalam saya tidur agak terlambat. Setiap malam memang begitu. Apalagi selama bulan Juni 2022 saya disibukkan dengan kegiatan Pelatihan Google Master Trainer (GMT) yang diselenggarakan atas kerja sama Kemdikbud Ristek, Refo dan pihak Google. Saya juga ikut Pelatihan Belajar Menulis gelombang 25-26 yang diasuh oleh Omjay (Wijaya Kusumah). Saya sempat ikut gelombang 23-24 tetapi saya ikut kembali karena merasa perlu belajar ilmu menulis lebih banyak lagi.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Waktu yang mepet untuk mandi dan berkemas. Saya putuskan untuk tidak mandi. Hanya gosok gigi dan cuci muka. Kalau tidak mandi di rumah biasanya saya mandi di sekolah.

Saya langsung mengambil baju yang saya gunakan sudah dua hari. Kerahnya mulai menghitam. Tetapi saya tetap menggunakannya. Hal yang sama dengan celana. Sepaket dengan bajunya. Saya benar-benar mengabaikan penampilan pagi ini. Saya buru-buru. Saya harus tiba di sekolah lebih awal.

Saat mengambil tas, anak ke dua saya, Hanif, datang menengadahkan tangan minta uang jajan. Dia akan juga akan ke sekolah. Saya buka dompet. isinya hanya selembar nota belanja milik sekolah, sebuah SIM dan STNK yang sudah bertahun tahun tidak pernah diperpanjang, kartu ATM yang isinya tidak dapat ditarik lagi karena sudah mencapai saldo minimal. 

Saya memutar otak. 3 ribu itu pasti ditolak. Biasanya Hanif membawa bekal 10 ribu. Saya cari-cari di kantong celana dan baju, saya buka beberapa buku lembar demi lembar siapa tahu ada lembaran lain yang terselip. Akhirnya, saya menemukan sebuah amplop tanpa tulisan dalam sebuah buku. Amplop saya buka. Selembar 20 ribuan terselip di dalamnya.

Sayapun berangkat naik motor butut saya. Hanif naik di belakang. Di depan saya, ada Tantowi, anak saudara saya juga ikut bersama saya ke sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah saya mampir di sebuah toko dekat sekolah Hanif. 

Di toko itu saya membeli sebotol air mineral. Saya sodorkan selembar uang 20 ribuan yang tadi saya temukan di amplop. Beberapa saat kemudian saya diberikan kembalian 15 rb. Saya keluar dan memberikan Hanif selembar uang 10 ribu kembalian tadi. Hanif berjalan menuju sekolahnya. Saya sendiri meneruskan perjalanan ke tempat tugas di sekolah lain.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 saat saya memasuki gerbang sekolah.. Beberapa orang terlihat membersihkan halaman. Hanya ada sebuah sepeda motor di depan ruangan saya. Sepeda motor penjaga. Berarti belum ada guru lain yang datang.

Tiba di sekolah saya langsung memobilisasi seluruh siswa untuk membersihkan lingkungan sekolah agar lebih cepat selesai. 10 menit berlalu, halaman sudah bersih. Anak-anak langsung masuk ke salah satu ruang kelas untuk mengikuti kegiatan program Imtaq berupa pembacaan doa yang terdiri dari surah Yasin dan ayat-ayat pendek. Kegiatan dilengkapi dengan bacaan tahlilan.

Secara kesluruhan saya memandu kegiatan pagi Jumat itu. Saat pembacaan sura Yasin, microphone saya serahkan kepada salah seorang siswa. Pada saat pembacaan doa penutup, lagi-lagi salah seorang siswa saya berikan kepercayaan.

Lombok Timur, 10 Juni 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

  Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari ...