Senin, 20 Juni 2022

Nenek Minah Penjual Semangka dan Perajin Ketak (12)

Di sampingnya terdapat sebuah bakul plastik menampung semangka. Di sebelah bakul tergeletak nampan tempat meletakkan semangka yang telah dipotong-potong. Irisan semangka yang ukurannya sama.

Seorang siswa datang dan menyodorkan sekeping uang logam seribu rupiah kepada pemilik semangka. Sebuah tangan keriput menerima kepingan uang itu dan membuka penutup nampan. Tampak dua potong semangka yang tersisa. 

Siswa itu mengangkat satu persatu irisan buah itu. Rupanya anak itu ingin memastikan mana irisan yang lebih besar sebelum menentukan pilihan untuk mengambil salah satu dari semangka itu. Sejak masih anak-anak kita memang sudah memiliki sikap sebagai pembeli untuk memilih barang yang lebih menguntungkan. 

Nenek penjual semangka. Dialah pemilik tangan keriput itu. Saban pagi nenek mangkal di sudut halaman sekolah. Sebut saja Papuk (Nenek) Minah. Bersamanya, Inaq (Ibu) Marni, seorang Ibu penjual nasi berbadan tambun melapak menyediakan sarapan pagi untuk anak-anak. Keduanya berusaha mengais rezeki dengan melayani anak-anak sekolah yang tidak sempat sarapan dari rumah.

Nenek Minah, sambil melayani anak-anak, tangannya terlihat cekatan dan terampil menusuk jarum lalu memasukkan ujung ketak pembentuk anyaman. Di samping jualan semangka, nenek Minah juga membuat kerajinan tangan dari ketak.

Ketak merupakan sejenis tanaman paku-pakuan yang menjalar pada tanaman tertentu. Tanaman itu dijadikan bahan baku untuk membuat berbagai bentuk barang kerajinan, seperti, nampan, bakul, piring, kotak tisu, dan berbagai souvenir. Sebelum digunakan sebagai bahan dasar anayman, ketak dikeringkan terlebih dahulu selanjutnya di raut. Sebagian dibelah sebagai pengikat anyaman.

"Kalau sebesar itu harganya berapa, Nek?" saya bertanya sembari memegang hasil anyaman ketak yang belum selesai. Bentuknya seperti bangun silinder dengan tinggi sekitar 25 cm dan diameter kurang lebih 20 cm.

"Dua ratus lima puluh sampai tiga ratus ribu," jawab Nenek Minah.

Tatapannya terlihat bolak balik ke arah dua titik, saya dan barang anyaman. Sesekali dia harus melayani anak-anak pemburu irisan semangka.

Tangannya berulang kali menusukkan sebuah jarum untuk memasukkan ujung-ujung ketak sebagai pengikat sekaligus motif dan pembentuk hasil anyaman. Sesekali dia mengambil sebilah pisau kecil dan meraut ketak agar memiliki ukuran yang sama dan kelihatan lebih rapi.

Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kecakapan. Melihat gerakan tangannya Nenek Minah sudah memiliki keduanya. Ketelitian dan kecakapan menganyam. Setiap kali menambahkan anyaman, nenek Minah memeriksa dulu batang ketak. Jika ukurannya lebih besar Nenek merautnya sampai benar-benar sesuai dan batang ketak lebih halus.

“Berapa lama bisa selesai dengan ukuran sebesar ini?” saya melanjutkan perbincangan.

Dia diam sejenak. Ibu Marni, berbadan tambun, penjual nasi menengok ke arahnya. Ibu Marni tersenyum membidik tatapannya ke arah saya. Saya melakukan hal yang sama pada Bu Marni. Tatapan matanya seakan ingin segera menjawab pertanyaan saya yang mungkin terlihat penasaran. 

Sambil melayani anak-anak yang minta nasi, Ibu Marni nyeletuk, “Bisa dua hari kalau tidak ada pekerjaan lain.”

“Dua hari?”

“Ya. dua hari, Itupun kalau dilakukan secara rutin,” Nenek Minah ikut meyakinkan.

“Wah. Lama ya baru bisa selesai. Terus harga bahannya berapa?”
“Biasanya dijual dalam bentuk ikatan. Seikat harganya tujuh puluh lima ribu’” Ibu Marni menjelaskan. 

“Belum lagi ketak pengikat yang sudah dibelah. Itu sekitar dua puluh lima ribu,” imbuh Nenek sambil menuntaskan anyamannya."

“Berapa ikat yang dibutuhkan untuk membuat anyaman sebesar itu?”

“Bisa  tiga ikat. Tergantung ukurannya.” jawab Nenek Minah.

“Berarti modalnya kalau 3 ikat dua ratus dua puluh lima ribu ditambah ketak pengikat dua puluh lima ribu. Modal semuanya 225 ribu. Harga jual maksimal 300 ribu. Nenek hanya mendapatkan 75 ribu untuk menghasilkan sebuah anyaman ketak selama 2 hari,” saya membatin sendiri.

“Lalu nenek jual ke mana?” saya bertanya lagi.

“Ada pengepulnya. Biasanya mereka datang sendiri untuk mengambil.”

Saya mencoba googling untuk menemukan informasi tentang anyaman ini. Sejumlah sumber melansir bahwa hasil kerajinan itu mampu mengangkat nama daerah karena pemasarannya sudah menembus mancanegara. 

Ini berarti mampu mendongkrak nama dan perekonomian daerah. Sayang pekerja anyaman seperti Nenek Minah tidak mampu bertahan hanya hanya dengan mengandalkan hasil anyaman ketaknya. Dia masih harus jualan semangka.

“Saat musim tembakau saya tidak membuat anyaman. Saya ikut bekerja harian menyiram, memupuk, atau panen tembakau,” kata Nenek Minah sambil menganyam ketaknya.

Nenek Minah terus menganyam. Ketak pengikat terus dililitkan ke batangan ketak ke batangan ketak lainnya  Nenek telus melilit sampai setiap utas lilitan ketak itu selesai.

Melihat Nenek Minah tengah memainkan jarum kecilnya, saya ingat pepatah sasak “Ngengalik isik jaum”. Secara harfiah berarti menggali dengan jarum. Sebuah pepatah sebagai metapora terhadap orang-orang kecil dengan penghasilan kecil. Hasil galiannya atau penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk hidup sehari.

Lombok Timur, 21 Juni 2022

4 komentar:

  1. Kalau bersambung akan lebih enak dibaca jika dicantumkan link tulisan sebelumnya dalam postingan, Pak

    BalasHapus
  2. Tulisan inspiratif. Cara penulisan juga sudah bagus. Lanjutkan Pak

    BalasHapus
  3. Selalu seru untuk dibaca. Keren.

    BalasHapus

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

  Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari ...