Rabu, 06 Juli 2022

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

 Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari sempat menjadi anak tenda. Kelahirannya juga dikawal musibah yang mendera keluarga atas kepergian salah seorang adik tercinta.

Saya sematkan nama Muhammad Zulhajj Ahsanul Khalqi. Nama yang cenderung terlalu panjang. Kata di belakang itu menjadi sapaannya. Kata "Zulhajj" saya selipkan untuk mengingat bulan Zulhijjah sebagai bulan kelahirannya.  

Khalqi sempat dirundung koreng dan kudis beberapa bulan setelah kelahirannya. Penyakit yang disebabkan hewan mikroskopis itu ditularkan oleh si Sulung, santri yang menyelesaikan pendidikan pesantren karena tidak tahan cobaan hidup di asrama bukan karena sudah banyak mendapat ilmu.

Rintihan akibat gatal menyayat rasa hampir setiap malam sambil menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. Sekarang perjuangannya melawan penyakit itu telah berlalu. 

Saat umur dua tahun Khalqi sudah menguasai sejumlah besar kosakata untuk balita seusianya. Dia hafal hampir semua nama papuknya (kakek/nenek:Sasak). Papuk Us, Papuk Tuan Cun, Papuk Ucin,, Papuk Hila, Papuk Ae, sampai Papuk Apok. Bahkan sebagian besar tetangga dekat dari yang kecil sampai generasi renta sudah menjadi bagian dari sistem kognisinya.

"Uciiin...!" teriaknya saat melihat Papuk Ucin atau mendengar mesin mobilnya memasuki gerbang halaman. Dan.. "Pepeeng...!" kata itu mengiringi teriakan pertamanya karena terbiasa diberikan kepeng (Uang:sasak). 

Saat usia dua tahun dia memperlihatkan kebiasaan tak lazimnya. Khalqi suka menjadikan sendok masak sebagai mainan. Peralatan dapur itu dibawanya kemana-mana bahkan saat tidur. 

Setiap hari Khalqi mengawali hidup sejak fajar. Bagi saya ini anugerah karena kehadirannya telah memutus kebiasaan tak elok saya. "Bangun kesiangan".

Khalqi tergolong anak yang aktif. Tidak bisa diam. Seringkali ibunya histeris berteriak melihatnya meloncat dari atas meja seperti atlet parkour.

Khalqi telah memberikan fakta bahwa bahasa pertama yang dikenal manusia adalah bahasa Ibu. Sebagaimana anak pada umumnya, jika diminta mengambil sesuatu atau mandi saat sedang bermain, dia acapkali menolak.

“Repot. Oki repot,” katanya tanpa menoleh sedikitpun.

Kata repot sering digunakan sebagai alasan ibunya yang sedang sibuk di dapur ketika diajak Khalqi keluar rumah atau diminta melakukan sesuatu.

Memasuki usia empat tahun Khalqi mulai mengenal dan belajar memahami kondisi alam. Dia mulai berfikir tentang hal-hal yang lebih luas.

suatu sore setelah hujan lebat saya mengajaknya jalan-jalan keliling desa agar tidak mengganggu ibunya yang sedang bekerja di dapur

"Itu ada lautan Pak," serunya saat melihat genangan air di sawah.

“Itu bukan lautan tetapi sawah,” saya menjelaskan.

“Tetapi ada airnya,” khalqi bersikukuh dengan alasannya.

Lautan dalam pikirannya adalah genangan air. Beberapa kali diajak ke pantai dan melihat laut dengan genangan air membuatnya berkesimpulan bahwa laut merupakan semua genangan air yang luas menurut ukuranya.

Sama halnya dengan gunung. Ketika suatu hari Minggu ikut saya ke sekolah untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan, Khalqi berteriak lantang sambil menunjuk sesuatu.

"Gunung Rinjani, Pak! Gunung!"

Dia terus teriak menyebut gunung. Pada saat yang sama, telunjuk kecilnya terus mengarah ke sebuah titik. Tangan mungil itu menunjuk kubah masjid.

Satu hal yang masih ada pada Khalqi adalah tantrum, sebuah ledakan emosi yang biasanya ditandai dengan sikap keras pada anak. Mereka mengekspresikannya dengan menangis, menjerit, berteriak, membangkang, atau marah saat keinginannya tidak terlampiaskan.

Berbeda dengan anak kebanyakan yang dapat diajak kompromi. Khalqi memiliki tipe dan sifat yang keras, memiliki keinginan yang kuat untuk menguasai sesuatu. Entah menguasai sesuatu yang bersifat kebendaan atau menguasai keterampilan tertentu untuk anak seusianya. Sudah beberapa kali jidatnya benjol terbentur dan bibirnya berdarah akibat polahnya yang naik dan loncat dari meja dan kursi.

Salah satu kebiasaan Khalqi adalah melepaskan bagian-bagian tertentu setiap mainannya kemudian bagian itu disusun kembali seperti semula. Pada titik ini tantrumnya muncul. Dia akan menunjukkan kekesalannya dengan berteriak, menangis, atau mencampakkan mainan tersebut. 

Setelah membaca beberapa artikel yang berhubungan dengan tantrum, ternyata pada fase seusia Khalqi perilaku seperti itu masih dapat dianggap normal. Untuk meredakan tantrum itu biasanya saya berusaha memenuhi keinginannya sejauh itu memang meungkinkan untuk dilakukan, seperti, membantu menyusun kembali bagian mainan yang copot, mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan aktivitas lain yang dapat membuat kekesalannya mereda. Jika tidak bisa, saya akan menggendongnya dan melakukan bujukan agar emosinya dapat dikendalikan. 

Lombok Timur, 06 Juli 2022

Minggu, 03 Juli 2022

Begawe; Tradisi Gotong Royong, Pamer Parang, dan Tembakau (22)




Sumber Gambar ; Diolah dari Canva

Hari itu, pagi yang basah. Titik embun bertengger pada pucuk dedaunan dan rumput liar. Udara dingin menembus kulit jangat yang telanjang. Matahari baru saja muncul menghias lengkung langit di ufuk timur dengan warna peraknya. Sekawanan burung pipit mencicit riang menyanyikan kesegaran pagi.

Saya berjalan menyusuri jalan aspal di depan rumah yang mulai koyak. Belum lima tahun aspal itu sudah menciptakan ketidaknyamanan kepada penggunanya. Tidak saja pengaspalan yang asal-asalan tetapi tingginya arus kendaraan pembawa material bangunan membuat jalan mengalami kerusakan lebih awal.

Dengan mengenakan sarung, kaos oblong, dengan kupluk penutup kepala saya melangkah menuju acara begawe (hajatan) pernikahan salah seorang warga di kampung sebelah. Begawe merupakan istilah dalam masyarakat Sasak yang merujuk kepada acara hajatan atau pesta pernikahan atau hitanan. Begawe juga sering disematlkan pada acara tujuh hari, sembilan hari, atau seratus hari meninggalnya seseorang.

Sudah menjadi tradisi masyarakat kampung yang masih menjunjung tinggi budaya gotong royong untuk saling membantu saat salah satu warga melakukan acara begawe.

Solidaritas sosial dalam keseharian kampung masih kental. Seseorang bisa terkena sanksi sosial jika jarang menghadiri begawe tetangganya. Dia akan diisolir dari kehidupan masyarakat. Seseorang yang jarang atau tidak pernah ikut serta dalam acara begawe pada saatnya nanti akan menjadi bahan pergunjingan. Jika yang bersangkutan mengadakan hajatan warga akan merasa enggan untuk membantunya.

Kampung tempat berlangsungnya begawe terletak di kaki bukit kecil. Sepagi itu, warga yang sudah ramai berdatangan untuk bekerja membantu mempersiapkan jamuan. Biasanya dimulai sejak subuh sehingga tamu undangan sudah dapat dijamu paling tidak jam 09.00 pagi.

Semua orang tampak bekerja di bawah tetaring, semacam naungan yang terbuat dari terpal dengan tiang bambu. Di masa lalu, naungan itu terbuat dari anyaman daun kelapa yang disebut kelansah. Ada juga yang menggunakan alang-alang. Selaras dengan perkembangan zaman tetaring dengan atap kelansah dan alang-alang mulai digantikan dengan terpal. 

Sekumpulan laki-laki terlihat mengupas kelapa. Kelompok lainnya tampak mengupas dan memotong nangka. Sekelompok orang lainnya mengiris batang pisang yang masih muda. Nangka dan batang pisang merupakan menu makanan yang biasa disajikan sebagai hidangan begawe

Dalam bahasa Sasak dua jenis makanan itu disebut ares. Ares pada dasarnya merupakan makanan yang bahan dasarnya batang pisang yang masih muda. Batang pisang itu diiris tipis-tipis setebal setengah sampai satu cm. Jika batang pisang sedang langka diganti dengan nangka muda. Begawe tidak akan lengkap rasanya tanpa masakan ares.

Setahu saya jenis bumbu yang digunakan untuk memasak ares itu sama. Keduanya merupakan makanan bersantan yang dilengkapi dengan cabai, bawang merah, kemiri, merica bawang putih, kunyit, dan lengkuas. Tentu saja digenapkan dengan garam sesuai takaran.

Juru masak dalam acara hajatan biasanya dilakukan oleh seorang masterchef ala kampung yang memang memiliki pengalaman memasak ares.

Warga yang datang untuk membantu biasanya membawa parang atau pisau. Mereka yang datang dengan perkakas pemotong yang tumpul akan jadi olok-olokan. Apalagi kalau datang dengan tangan kosong tanpa perkakas. Kedatangannya terkesan hanya untuk melihat-lihat saja.

Hal lain yang menarik dalam acara hajatan seperti itu adalah pamer parang atau pisau. Menjadi kebanggaan laki-laki kalau datang dengan parang yang tajam, bentuk yang bagus, dengan bahan besi baja yang berkualitas. Maka jika datang ke tempat begawe, biasanya para laki-laki datang dengan koleksi parang atau pisau yang paling bagus.

Saat bekerja mereka akan bercerita tentang asal usul parang dan pisau yang dibawa masing-masing, sejak kapan dimiliki, sudah berapa kali begawe digunakan, sudah pernah digunakan untuk apa saja dan seterusnya.

Tembakau merupakan bagian dari perbincangan para lelaki. Hanya sebagian kecil dari mereka tidak merokok. Pada kesempatan begawe sebagian besar membawa lompak, tempat tembakau yang terbuat dari anyaman lontar atau daun pandan. Lompak akan keluar dari saku masing-masing dan saling membandingkan rasa, bau asap, dan warna tembakau.

Itulah tradisi begawe, sebuah tradisi yang pada dasarnya dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebuah kebiasaan warisan leluhur dimana momentum itu menjadi sebuah ruang dimana warga merasa sama. Kaya dan miskin melebur menjadi satu dalam semangat gotong royong dan kebersamaan.

Lombok Timur, 03 Juli 2022


Sabtu, 02 Juli 2022

Wajarkah Pemberian Hadiah untuk Guru? (21)

Salah satu topik yang sedang ramai saat ini adalah fenomena pemberian hadiah untuk guru. Pemberian hadiah itu memicu munculnya pendapat yang beragam. Ada pihak yang tidak setuju karena dianggap sebagai bagian dari gratifikasi. Ada juga yang setuju karena dianggap sebagai bentuk penghargaan atau apresiasi siswa dan orang tua terhadap peran guru sebagai pendidik.

Pandangan lainnya melihat hadiah itu dianggap sebagai apresiasi atau gratifikasi tergantung seberapa besar nilai hadiah yang diberikan. Pandangan ini juga melihat bagaimana pemberian hadiah itu terjadi, atas permintaan guru atau memang niat tulus pihak wali murid.

Sebuah artikel yang ditulis seorang wali murid menyebutkan bahwa ada tradisi memberikan sejumlah uang kepada guru di sebuah sekolah. Pemberian uang itu memang tidak diminta oleh guru tetapi seakan menjadi sebuah tradisi yang terbentuk atas kesepakatan secara alami dari waktu ke waktu. Karena telah menjadi sebuah tradisi, wali murid cenderung memaksakan diri untuk memberikan hadiah itu sehingga berupaya dengan berbagai cara.

Di masa lalu pemberian itu terbatas pada hasil bumi berupa beras, jagung, pisang, atau ubi dan berbagai hasil pertanian lainnya. Ada pula yang memberikan hasil ternak berupa ayam, itik, atau ternak unggas lainnya. 

Ayah saya merupakan seorang guru produk masa lalu. Guru pada masanya adalah sosok yang dianggap serba bisa. Di luar tugas mengajarnya, guru diposisikan sebagai pemimpin secara kultural. 

Sebagai pemimpin kultural, guru adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, seseorang yang harus didengar, figur yang dianggap selalu bijak dan mampu memberikan solusi kepada masyarakat dalam memecahkan berbagai persoalan sosial, budaya, dan agama.

Dengan kedudukan seperti itu, guru pada masa lalu seringkali menjadi sumber pengambilan keputusan. Sedemikian pentingnya peran guru membuat mereka harus terlibat dalam segala urusan kemasyarakatan.

Guru didapuk sebagai khatib, memimpin doa, menjadi panitia hari besar keagamaan, sampai menjadi pengurus masjid adalah indikator bahwa guru ditempatkan masyarakat sebagai pemimpin kultural.

Dalam hal-hal yang sederhana guru kerap menjadi sandaran bagi masyarakat. Guru sering diminta membuat nama untuk anak-anak yang baru lahir. Tidak jarang pula nama-nama guru oleh masyarakat disematkan kepada anak-anak mereka. Jika sepasang suami istri berselisih, guru diminta menjadi penengah dan pemberi keputusan.

Saya pernah bertemu dengan murid-murid ayah atau paman saya yang juga seorang guru. Di antara mereka ada yang mengaku memberikan nama anaknya sama dengan nama ayah atau paman saya. Nama itu mereka gunakan dengan harapan anak-anak mereka dapat mengikuti jejak ayah atau paman saya sebagai guru.

Kedatangan tamu seorang guru pada masa itu, konon, merupakan sebuah kebanggaan. Mereka akan berusaha menyuguhkan hidangan terbaik. Tuan rumah akan bergegas ke sawah atau ladang untuk mengambil sayur atau tanaman palawija terbaik sebagai hidangan. Mereka juga tidak segan-segan mengorbankan ayam, itik, atau unggas ternak untuk disuguhkan.

Tidak berhenti sampai di sini, saat pulang guru dibekali dengan jagung, ubi, beras, atau hasil bumi lainnya untuk dibawa pulang. Jika dianggap berat, barang pemberian itu akan diantarkan sampai di rumah.

Diperlakukan seperti itu guru yang bersangkutan tidak sekadar memberikan ucapan terima kasih. Biasanya pemberian itu dibalas dengan hadiah berupa baju, kain atau kopiah.

Dikaitkan dengan fenomena pemberian hadiah saat ini, sesungguhnya hal ini sudah terjadi sepanjang sejarah pendidikan. Sejalan dengan perubahan sosial dan budaya, pemberian hadiah itu kemudian menjadi perdebatan publik.

Saya tidak berupaya membenarkan atau menyalahkan guru yang menerima hadiah. Di satu sisi tidak ada salahnya guru mendapatkan hadiah dari siswa atau orang tua siswa sejauh itu dalam bentuk yang wajar. Tetapi tentu tidak bisa dibenarkan jika pemberian hadiah itu dapat memberatkan wali murid sehingga memberikan kesan yang tidak elok di tengah masyarakat.

Lombok timur, 30 juni 2022

Identitas Kependudukan dan Data Siswa (20)

Entah bagaimana rasanya menikmati pagi di rumah. Masa libur sekolah yang mestinya dinikmati dengan bersantai di rumah, karena ada saja tugas profesi yang perlu segera diselesaikan, terpaksa harus berkemas meninggalkan kehangatan pagi yang terserak di halaman rumah.

Paragraf di atas bukanlah sebuah keluhan melainkan sebuah narasi yang hendak mengajukan sebuah fakta bahwa  Kamis, 29 Juni 2022, saya menuju sekolah untuk menyelesaikan beberapa hal yang berhubungan dengan kesiswaan. Beberapa Surat Keterangan Lulus yang dibuat sekolah mengalami kekeliruan. Kekeliruan nama itu menyangkut nama siswa, tempat dan tanggal lahir, serta  identitas orang tua.

Kekeliruan di atas biasa terjadi setiap tahun. Sesuatu yang terus terjadi secara berulang-ulang. Pepatah bahwa "keledai tidak jatuh dua kali ke lubang yang sama" rupanya tidak berlaku. 

Mengapa hal ini bisa terjadi berulangkali? Salah satu penyebabnya adalah data kependudukan keluarga yang tumpang tindih. Misalnya, saat pendaftaran siswa baru tidak dilengkapi dengan data kependudukan yang lengkap. Sebagian anak-anak tidak memiliki akta kelahiran. Orang tua siswa datang dan mengisi formulir pendaftaran siswa baru dengan bantuan panitia atau guru.

Saat pengisian data guru membantu mengisi formulir berdasarkan keterangan lisan orang tua. Tingkat pendidikan orang tua yang rerata tamatan SD seringkali menyebut nama anaknya sendiri secara keliru. Sebagian orang tua juga tidak mengetahui tanggal lahir anaknya sehingga pencatatannya pun tidak selalu tepat. Orang tua tidak terbiasa mencatat tanggal lahir anaknya sendiri. Jika ditanya mereka lupa dan hanya mengingat suatu peristiwa tertentu tu yang secara bersamaan dengan hari lahir anaknya. Salah satu contohnya, kelahiran anak mereka dikaitkan dengan saat penanaman sebatang kelapa di halaman rumah.

Belakangan setelah penertiban data kependudukan melalui penertiban data kependudukan, anak-anak tersebut baru diusulkan pembuatan akta kelahiran oleh orang tuanya. Di sinilah letak kekeliruannya. Data siswa saat mendaftar sebagai siswa baru kadang-kadang berbeda dengan data saat pembuatan akta kelahiran.

Permasalahan di atas menimbulkan permasalahan pada data siswa di sekolah. Setelah penerbitan akta kelahiran orang tua tidak mengkonfirmasi kepada sekolah jika terjadi perbedaan data kependudukan dengan data siswa pada saat pendaftaran sebagai siswa baru.

Ada pula data siswa yang ganda. Beberapa siswa yang dititipkan dengan kakek atau neneknya menjadi anggota keluarga dua kartu keluarga yang berbeda.

Di sinilah hikmah pandemi, kerancuan data kependudukan yang terjadi bertahun-tahun. Pemberian bantuan berdasarkan data kependudukan mengharuskan warga berbondong-bondong melengkapi diri dan anggota keluarganya dengan data kependudukan yang akurat.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya kerancuan data siswa tahun ini mengalami penurunan. Tidak saja karena upaya sosialisasi penertiban yang dilakukan pemerintah tetapi juga kesadaran warga terhadap pentingnya data kependudukan yang tepat untuk mendapatkan pelayanan yang cepat dari pemerintah.

Lombok Timur, 29 Juni 2022


Jumat, 01 Juli 2022

Libur atau Kerja; Pengertian yang Kabur? (19)

Secara formal libur dapat diartikan sebagai sebuah hari tidak masuk bekerja atau tidak masuk sekolah. Pengertian seringkali mengacu kepada tanggal merah atau kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan atau profesinya.

Dalam pengertian lain libur adalah momentum dimana seseorang memiliki kesempatan mengistirahatkan pikiran dan tenaganya setelah berjibaku dengan berbagai aktivitas yang tidak jarang menciptakan kesuntukan. Ini merupakan pengertian libur yang sesungguhnya. 

Dua pengertian libur di atas pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, menjeda aktivitas rutin yang dilakukan setiap hari. Tetapi acapkali pengertian keduanya menjadi samar karena banyak orang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan profesinya pada hari libur. Pada hari libur, sebagian orang menyelesaikan tuntutan pekerjaan yang belum selesai. Jadi, pengertian libur pada titik ini adalah terbatas pada tidak masuk atau datang ke tempat kerja tetapi tetap bekerja walaupun dilakukan di rumah atau di tempat yang berbeda.

Artikel ini tidak hendak mempertentangkan tentang pengertian libur dan kerja. Banyak dari kita melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rutin pada hari yang seharusnya dapat dinikmati dalam suasana santai. Hal ini terjadi karena pekerjaan itu bersifat mendesak dalam limit waktu yang telah ditentukan.

Ada pula yang memang memiliki alasan lain. Mereka menuntaskan pekerjaan itu karena memang lebih suka bekerja daripada diam atau mengisi waktu libur dengan bepergian.

Setiap orang memiliki alasan masing-masing dan hal ini sangat subyektif. Libur bagi sebagian orang adalah libur yang sebenarnya. Bagi sebagian orang berbeda lagi. Libur hanya tidak keluar rumah menuju atau tidak ke tempat kerja tetapi pada hakikatnya tetap bekerja.

Saat-saat libur saya berada di sekolah. Saya tidak ke destinasi wisata. Di sinilah wisata saya. Libur dan kerja bagi saya dan sebagian orang adalah sama. Libur dan kerja dua hal yang berbeda tetapi bekerja pada hari libur merupakan hal yang biasa.

Hal yang tidak biasa adalah libur pada hari kerja. Setiap orang berhak mendefinisikannya dengan bebas. Tidak semua istilah, kata, atau obyek memiliki pengertian tunggal. Ini sangat tergantung cara kita memandangnya.

Samudera luas bagi sebagian orang adalah alam menakutkan. Bagi para pelaut, samudera merupakan halaman rumah atau rumah keduanya. Bagi nelayan, ombak lautan merupakan hamparan sawah bagi masyarakat petani pada tanah datar di kaki bukit.

Lombok Timur, 02 Juli 2022

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

  Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari ...