Sabtu, 18 Juni 2022

Saya Dipalak Siswa (10)


“Waktu istirahat tiba,” demikian bunyi aplikasi pengaturan jam belajar terdapat perangkat sound system milik sekolah.

Sejak pagi saya sendiri duduk di atas kursi hidrolik dalam ruang kerja menghadapi layar laptop untuk menyelesaikan beberapa naskah tentang laporan kegiatan sekolah. Biasanya di atas meja saya selalu menyediakan sebotol air mineral. Tetapi hari itu hanya ada botol plastik kosong. Saya mengambil botol itu dan keluar untuk melepaskan penat dan merefresh pikiran.

Saya berdiri di pintu yang berhadapan dengan halaman sekolah. Tampak anak-anak telah berhamburan ke luar untuk memanfaatkan jam istirahat. Sejumlah siswa laki-laki berlari ke halaman sekolah. Salah satunya membawa bola. Dalam waktu singkat sudah siaga dua tim sepak bola yang siap bertanding. Harusnya terdiri dari sebelas orang untuk masing-masing tim. Tetapi anggota tim sepak bola itu berbeda. Salah satunya terdiri dari 6 orang. Tim lainnya 8 orang.

Pertandingan sepak bola dimulai tanpa wasit, tanpa batas waktu. Saat permainan sudah berjalan, tidak ada bola keluar lapangan, handball, atau offside. Bola itu seolah pasrah disepak dari satu kaki ke kaki lainnya.

Sebagian besar anak laki-laki memang suka bola. Energi mereka untuk mengejar bola seperti tidak ada habisnya. Mereka tak kenal lelah. Bahkan usai sekolah mereka tidak langsung pulang. Dalam cuaca panas paling ekstrem mereka seperti memiliki suplai tenaga yang tidak berkurang sedikitpun. Kulit mereka seperti kebal dengan terik matahari..

Saya tersenyum menyaksikan aksi bocah-bocah itu. Pemandangan itu membuat lukisan masa kecil saat saya juga melakukan hal yang sama. Hanya saja bolanya bukan bola seperti sekarang. Saya dan teman-teman membuat bola dari lapisan gedebog pisang yang telah mengering. Gedebog itu digulung sehingga membentuk bulatan sebesar bola. Agar gedebog tidak terurai bola itu diikat tali dengan membuat simpul di sekujur permukaannya.

Masih lekat dalam ingatan, permainan itu dilakukan di sawah saat musim kemarau. Tanah sedang mengering dan pecah-pecah. Anak-anak sekarang tidak pernah membayangkan bagaimana bermain di atas permukaan tanah sawah dengan lubang menganga. Tanpa sepatu.

Ah. Betapa indahnya masa kecil. Hidup tanpa beban kecuali beban tugas dari sekolah. Selebihnya hanya keceriaan. Atau kesedihan sementara saat menyaksikan teman-teman memiliki mainan baru. Atau ketika lebih besar lagi, kesedihan anak-anak masa kini ketika melihat teman-teman memiliki handphone dan asyik main game atau nonton tiktok.

“Adit,” seorang siswa melintas di hadapan saya. 

Aditya siswa kelas 6. Hari itu Aditya tidak ikut main bola. Dia paling sering saya minta bantuannya untuk membeli sesuatu pada sebuah kios kecil dekat sekolah. Jika Adit tidak ada saya minta bantuan siswa lain. Mendengar namanya dipanggil Aditya berlari kecil menhampiri saya.

“Adit tidak ikut main?”

:Tidak Pak.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Ada tugas diberikan Pak Samsul, Apa yang mau dibelikan Pak?”

Rupanya Adit tahu kalau saya membutuhkan bantuannya. Saya memang sering meminta bantuannya untuk membeli sesuatu atau membuang stok sampah yang sudah memenuhi bak kecil di sudut ruangan saya. Atau hal lain yang memungkinkan dilakukan anak-anak seusianya.

“Saya butuh air minum,”

“Air minum?”

“Ya. Air minum.”
“Yang kemarin sudah habis?”

“Habis.”

“Sekarang mau beli lagi?”

“Ya, begitu. Ini uangnya. Belikan yang botol besar. Sekalian masukkan botol ini ke dalam karung.”

Saya memberikan botol plastik kosong untuk dikumpulkan dengan botol bekas lainnya. Sekolah berinisiatif mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijadikan bahan ecobrick. Sebuah program sekolah yang bertujuan mengurangi sampah di sekitar sekolah.

Saya juga menyodorkan selembar 20 ribuan. Aditya tersenyum sumringah. Senyum itu menunjukkan sebuah harapan bahwa saya akan memberikan sebagian uang kembalian kepadanya. Memang begitu. Biasanya saya selalu memberikan uang kepada anak-anak kalau saya meminta mereka membeli sesuatu. Tidak banyak. Tetapi itu cukup membuat mereka senang. Mungkin dengan begitu mereka merasa dihargai.

“Ke mana Dit?” tanya Topan teman sekelasnya di gerbang sekolah sambil berlari mengejar Aditya. Pada saat yang sama, tampak Heri, Reza, dan Yuga menyusul di belakangnya.

Sepuluh menit berlalu, Aditya sudah kembali dengan sebotol air mineral produk lokal. Aditya langsung menuju ruangan saya. Dia melangkah masuk dengan sedikit membungkukkan tubuh sebagai sikap hormat.

“Ini airnya, Pak,” 

Terima kasih, ya,” tanpa menoleh saya terus berkonsentrasi pada screen laptop.

Aditya hanya diam dan meletakkan botol itu di atas meja. Di samping botol, dia juga meletakkan uang kembalian. Aditya membalikkan badan hendak keluar.

“Adit!” saya memanggilnya sebelum langkahnya mencapai pintu.

“Iya Pak.”

Saya melirik uang kembalian di atas meja. Ada selembar uang 10 ribu, dua lembar 2 ribu, dan sekeping uang logam seribu rupiah. Saya mengambil selembar 2 ribu dan kepingan logam.

“Ini buat Adit.”

Lamat-lamat saya melihat keraguan Aditya menerima uang itu.Dia menunduk melihat uang tiga ribu. Mimiknya se[erti sedang menghitung sesuatu.

“Ada apa Dit? Bawa saja uangnya. Kamu bisa jajan dengan uang itu.”

“Iya. Tapi…,” kalimat Aditya tersendat.

“Tapi apa…? Tumben kamu tidak mau dikasih uang. Biasanya kan….”

“Bukan begitu, Pak. Saya tadi beli air minumnya berlima. Ada Topan, Heri, Reza, dan Yuga. Kalau diberikan seribu-seribu dua orang tidak kebagian.”

“Kalau begitu bawa sini uangnya!”

Aditya ragu. Mungkin dikiranya saya tidak akan memberikan uang. Saya mengambil uang 10 ribu di atas meja.

“Ini bawa dan bagi ke teman-temanmu. Kalau dibagi lima masing-masing dapat berapa?”

“Dua ribu.” Aditya menjawab cekatan seperti peserta cerdas cermat.

“Gliran bagi duit kamu kok pintar? Ini ambil. Kamu telah memalak saya kalau begini,” saya mengatakannya sambil tersenyum. Aditya tertawa cengengesan oenuh girang.

Ternyata di luar ruangan empat temannya sudah menunggu. Ada suara tawa renyah lima sekawan dari balik dinding.

Dua hari berlalu setelah kejadian, lima sekawan tengah berkumpul di bawah rimbun pohon halaman sekolah. Saya melangkah menuju motor yang diparkir dekat mereka.

“Ke mana, Pak?” tanya Aditya.

“Ada undangan rapat di kantor Dinas.”

Aditya, Topan, Heri, Reza, dan Yuga mendatangi dan menyalami saya.

“Kapan beli air lagi?”

“Sekarang saya tidak minum air mineral lagi. Saya minum air kran. Kapok dipalak kalian.”

Tawa lima sekawan itu meledak Saya tersenyum melihat tingkah mereka. Saya tahu mereka mencandai saya. Mungkin mereka merasa berhadapan dengan orang tua mereka sendiri. Setidaknya canda itu menunjukkan bahwa mereka merasa dekat dengan saya. Berbeda jika mereka merasakan ada jarak. Bisa jadi mereka akan menjauh dan saya tidak dapat menikmati candaan anak-anak itu.


Lombok Timur, 19 Juni 2022


4 komentar:

Khalqi, Lautan, Gunung, dan Tantrum (23)

  Lahir 4 tahun silam menjelang Idul Adha 1439 H. Kelahirannya persis saat gempa menjadi trend bencana di Lombok Utara. Selama belasan hari ...