Pagi yang basah. Saya merasakan sentuhan dingin saat menginjakkan kaki di jalan setapak menuju pemakaman. Rasa dingin itu berasal dari titik embun pada rerumputan yang tumbuh liar di atasnya.
Usai shalat subuh di masjid saya melangkah menuju ke pemakaman umum di mana ibu menjalani istirahat panjangnya. Itulah rutinitas saya setiap selesai shalat subuh jumat pagi. Bersama Fitri, adik perempuan saya, biasanya saya mengunjungi Ibu untuk memanjatkan doa di atas pusaranya. Doa untuk beliau, kakek dan nenek, serta semua orang yang dimakamkan di kuburan itu.
Ibu pergi untuk selamanya beberapa bulan lalu. Beliau akhirnya menyudahi penderitaannya akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya sejak lama. Rasa sakit yang terus menerus dirasakan pada area pinggang hingga lutut.
Bertahun-tahun pinggangnya didera nyeri tak bertepi. Menurut dokter, itu dipicu oleh osteoporosis tulang belakang. Lututnya sendiri tidak dapat ditekuk. Akibatnya Ibu harus menyeret kakinya saat berjalan. Ini pula yang membuat beliau hanya bisa shalat di atas kursi.
Saya tiba di gerbang pemakaman. Tampak para peziarah sudah ada yang datang. Beberapa orang duduk di pusara keluarganya masing-masing. Beberapa orang lainnya sedang mencari tempat yang nyaman di area makam untuk duduk berdoa.
Saya sendiri mengarahkan langkah ke pusara Ibu. Berjingkat saya berjalan menghindari rumput makam yang dingin akibat titik embun. Saya memilih mengambil tempat duduk di salah satu sisi pusara persis pada batu nisan. Kombinasi warna putih, kuning dan biru yang mendasari nisan itu masih utuh.
Nama Ibu yang terpahat pada permukaan nisan dengan warna keemasan juga masih terbaca dengan jelas. Sejelas itulah kenangan kebaikan, kesabaran, dan segala keluhuran Ibu tetap ter[ahat dalam kesadaran saya, saudara-saudara saya, terutama ayah, dan pada semua orang kampung.
Nama pada batu nisan itu seolah melukis wajah ibu yang sabar. Saya melihat bibir Ibu yang selalu tersenyum kepada semua orang. Suara yang selalu lembut menegur sapa setiap orang yang dikenalnya. Nama pada batu nisan itu menyajikan gerakan bibir Ibu yang selalu komat kamit mengucap doa dan istighfar dalam kesendiriannya. Wajah yang selalu basah oleh air wudhu.
Masih jelas terdengar suara Ibu yang selalu melantunkan bacaan al-Qur'an usai maghrib lalu menjedanya dengan shalat Isya untuk kemudian kembali membacanya sampai waktu istirahat tiba. Satu jam menjelang fajar beliau bangun dan menyeret kakinya menuju kamar mandi untuk buang air dan wudhu. Selanjutnya beliau tahajjud, berzikir, dan kembali membaca al-Qur'an hingga subuh.
Di pusara Ibu saya bersimpuh. Beberapa saat berlalu, Fitri, adik perempuan saya datang dan bergabung bersama saya membaca surah yasin dan mengamini do'a yang saya panjatkan.
Dalam doa saya kembali membayang wajah perempuan paling tulus yang pernah ada dalam kehidupan saya dan saudara-saudara saya. Wajah yang selalu berbinar. Bahkan saat Ibu dalam keadaan sakit. Wajah yang tidak pernah meminta apapun dari kami. Kecuali minta ditemani ke dokter atau rumah sakit untuk berobat. Itulah Wajah Ibu.
Lombok Timur, 17-06-2022

Wow... resumenya kereen
BalasHapus